ANEMIA MEGALOBLASTIK DEFISIENSI AS. FOLAT
Definisi
Anemia adalah berkurangnya jumlah SDM (sel darah merah), kuantitas hemoglobin, dan volume packed red blood cells (hematokrit) hingga dibawah nilai normal per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik, dan korfirmasi laboratorium (Baldy 2005).
Karena semua sistem organ dapat terkena, maka pada anemia dapat menimbulkan manifestasi klinis yang luas, bergantung pada kecepatan timbulnya anemia, usia individu, mekanisme kompensasi, tingkat aktivitas, keadaan penyakit yang mendasari, dan beratnya anemia (Baldy 2005).
Menurut Soenarto (2001), anemia megaloblastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megaloblastik. Kriteria anemia dan defisisensi gizi menurut WHO 1972 sebagai berikut:
Dinyatakan anemia bila kadar hemoglobin (Hb) lebih rendah dari nilai pada golongan umur yang ada, yaitu:
• Anak umur 6 bulan - 6 tahun : 11g/100ml
• 6 tahun- 14 tahun : 12g/100ml
• Pria dewasa : 13gr/100ml
• Perempuan dewasa tak hamil : 12 gr/100ml
• Perempuan dewasa hamil : 11 gr/100ml
Anemia megaloblastik (Sel darah merah besar) diklasifikasikan secara morfologis sebagai anemia makrositik normokromik. Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi a yang mengakibatkan gangguan sintesis DNA, disertai kegagalan maturasi dan pembelahan inti (Guyton 2001).
Etiologi
Anemia megaloblastik defisiensi asam folat disebabkan karena defisiensi asam folat. Defisiensi asam folat itu sendiri dapat disebabkan karena banyak faktor. Asupan yang tidak adekuat karena diet yang tidak seimbang (sering pada peminum alkohol, usia belasan tahun, beberapa bayi). Para peminum alkohol akan dapat mengalami defisiensi asam folat karena sumber utama asupan kalori yang dikonsumsi berasal dari minuman beralkohol. Alkohol dapat menganggu metabolisme folat. Pecandu narkotik juga mudah menjadi defisiensi folat karena malnutrisi. Banyak individu fakir miskin dan usia lanjut yang mendapat makanan yang kurang , akan menderita defisiensi asam folat (Soenarto 2001).
Hal lain yang dapat menyebabkan defisiensi asam folat adalah meningkatnya kebutuhan. Jaringan –jaringan yang relatif pembelahan selnya sangat cepat seperti sum-sum tulang, mukosa usus, memerlukan cukup besar folat. Karenanya, para pasien anemia hemolitik kronik atau penyebab lain terjadinya eritropoiesis yang aktif akan mengalami defisiensi. Perempuan hamil mempunyai resiko yang tinggi mengalami defisiensi folat karena keperluan yang meningkat bersamaan dengan perkembangan janin.. Defisiensi folat dapat tampak selama pertumbuhan bayi dan remaja. Para pasien dengan hemodialisa kronik perlu diberi suplementasi folat guna mengganti folat yang hilang.
Selain itu gangguan absorbsi (malabsorbsi) juga dapat menyebabkan defisiensi asam folat (contoh: statorrhea idiopatik, tropical sprue, celiac disease). Pada penderita penyakit usus halus tertentu, terutama penyakit Crohn dan sprue, juga dapat terjadi defisiensi asam folat karena terjadi gangguan penyerapan asam folat.
Pemakai obat antagonik asam folat juga dapat menyebabkan defisiensi asam folat, contohnya adalah methotrexat, 6-merkapto purin, pirimetamin, derivate barbiturate, dan lain-lain. Obat anti-kejang tertentu dan pil KB juga merupakan obat antagonik karena mengurangi penyerapan asam folat.
Kehilangan folat berlebihan melali urin juga dapat mengakibatkan defisiensi asam folat. Keadaan ini terjadi pada seseoranga yang menderita penyakit hati aktif dan gagal jantung kongestif (hoffbrand, pettit & moss 2005).
Patofisiologi
Defisiensi asam folat gangguan sintesa DNA gangguan sintesa nucleoprotein asinkronisasi maturasi inti dan sitoplasma megaloblastic hematopoesis anemia makrositik.
Tanda dan Gejala
Orang yang mengalami kekurangan asam folat akan menderita anemia. Bayi tetapi bukan orang dewasa bisa mengalami kelainan neurologis. Kekurangan asam folat pada wanita hamil bisa menyebabkan terjadinya cacat tulang belakang (korda spinalis) dan kelainan bentuk lainnya pada janin.
Anemia menyebabkan kelelahan, sesak napas, dan rasa pusing. Orang dengan anemia merasa badannya kurang enak dibandingkan orang dengan tingkat Hb yang wajar, mereka merasa sulit bekerja, artinya mutu hidupnya lebih rendah. Anemia juga meningkatkan risiko kelanjutan penyakit dan kematian
Seseorang yang mengalami anemia akan tampak lesu, mudah lelah, kurang darah, cepat mengantuk, nafas pendek (manifestasi berkurangnya pengiriman O2), peradangan pada lidah, mual, hilangnya nafsu makan, sakit kepala, pingsan, dan agak kekuningan.
Menurut (Baldy 2005), salah satu dari tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Keadaan ini umumnya diakibatkan dari berkuranganya volume darah, berkurangnya hemoglobin, dan vasokonstriksi untuk memaksimalkan pengiriman O2 ke organ-organ vital. Warna kulit bukan merupakan indeks yang dapat dipercaya untuk pucat karena dipengaruhi pigmentasi kulit, suhu, dan kedalaman serta distribusi bantalan kapiler. Bantalan kuku, telapak tangan, dan membran mukosa mulut serta konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik untuk menilai pucat. Jika lipatan tangan tidak lagi berwarna merah muda, hemoglobin biasanya kurang dari 8 gram.
Gambaran Laboratorik
Menurut (hoffbrand, pettit & moss 2005), anemia bersifat makrostik (MCV >95 fl dan sering mencapai 120-140 fl pada kasus berat) dan makrosit tersebut biasanya berbentuk oval. Perhitungan retikulosit memperlihatkan hasil yang rendah, dan jumlah leukosit serta trombosit total mungkin turun sedikit, khususnya pada pasien anemia berat. Suatu proporsi netrofil memperlihatkan adanya hipersegmentasi inti (dengan enam atau lebih lobus). Sumsum tulang biasanya hiperselular, dan eritroblas berukuran besar serta menujukan kegagalan pematangan inti dengan inti yang mempertahankan pola kromatin berlubang-lubang, halus dan berbercak, tetapi hemoglobinisasinya normal. Adanya metamielosit raksasa dan berbentuk abnormal adalah khas pada penyakit ini.
Bilirubin indirek, hidroksibutirat, dan laktat dehidrogenase (LDH) serum smeuanya meningkat akibat pemecahan sum-sum tulang.
Folat serum dan folat eritrosit rendah pada anemia megaloblastik yang disebakan oleh defisiensi folat. Pada defisiensi B12, folat serum cenderung meningkat, tetapi folat eritrosit menurun. Walaupun demikian, tanpa adanya defisiensi B12, folat eritrosit adalah petunjuk folat dalam jaringan yang lebih akurat dibandingkan dengan folat serum (hoffbrand, pettit & moss 2005). Menurut (Soenarto 2001), kadar serum normal dari asam folat berkisar antara 6-20 ng/ml; nilai sama atau dibawah 4 ng/ml secara umum dipertimbangkan untuk diagnostik dari deefisiensi folat.
Uji untuk menentukan penyebab defisiensi vitamin B12 atau folat (Sumber :hoffbrand, pettit & moss 2005)
Vitamin B12:
• Riwayat makanan
• Absorbsi B12 ± IF (factor intrinsic)
• Antibodi terhadap sel parietal,
• Endoskopi atau Barium meal dan follow through
• Fungsi lambbung (asam, IF)
Folat:
• Riwayat makanan
• Uji untuk malabsorpsi intestinal
• IF Antibodi anti-gliadin dan endomisium
• Biopsi duodenum
• Penyait yang mendasari
Pengobatan
Defisiensi folat perlu diobati dengan terapi pengganti. Dosis yang lazim diberikan adalah 1 mg per hari per oral, namun dosis tinggi sampai 5 mg per hari mungkin diperlukan pada defisiensi folat yang disebabkan karena malabsobsi. Pemberian folat parenteral jarang diperlukan. Respons hematologis sama dengan yang dapat dijumpa setelah terapi pengganti pada defisiensi kobalamin, misalnya terjadi retikulositosis yang nyata setelah kurang lebih 4 hari, kemudian diikuti dengan terkoreksinya anemia setelah 1 sampai 2 bulan kemudian. Lama terapi tergantung pada keadaan dasar defisiensi (Soenarto 2001)..
Para pasien dengan keperluan yang terus menerus meningkat seperti pada pasien anemia hemolitik atau mereka yang dengan malabsorbsi atau malnutrisi kronik, hendaknya terus menerus didorong guna memelihara dan mengajarkan diet yang optimal dengan kecukupan folat (Soenarto 2001).
Menurut (hoffbrand, pettit & moss 2005), sebagian besar kasus hanya memerlukan pemberian vitamin yang sesuai. Jika sam folat dosis besar (misal 5 mg sehari) diberikan pada defisiensi vitamin B12, akan menyebabkan terjadinya respons hematologik tetapi dapat memeperburuk neuropati. Karena itu folat tidak boleh diberikan sendiri kecuali jika defisiensi vitamin B12 telah disingkirkan. Pada pasien anemia berat yang memerlukan pengobatan segera, mungkin lebih aman untuk memulai pengobatan dengan kedua vitamin setelah dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan B12 dan folat dan pemeriksaan sumsum tulang. Pada orang tua, adanya gagal jantung harus dikoreksi dengan pemberian diuretic dan suplemen kalium oral selama 10 hari (karena pada beberapa kasus telah ditemukan adanya hipokalemia). Transfusi darah harus dihindari sedapat mungkin karena dapat menyebabkan kelebihan beban sirkulasi.
Bila defisiensi timbul pada minggu pertama kehamilan, maka dapat mengakibatkan efek pada saluran neonates. Kadang-kadang pada kehamilan tersebut tidak dapat terdeteksi sampai efek tersebut telah berkembang, jadi ketentuan suplementasi folat pada perempuan setelah mereka mengetahui mereka hamil tidaklah efektif. Namun demikian, suplementasi makanan yang mengandung folat, dapat mengurangi efek saluran saraf sampai lebih dari 50%
Diet
Menurut (hoffbrand, pettit & moss 2005), asam folat diberikan pada kehamilan, dengan dosis anjuran sebesar 800 µg tiap hari dan semua wanita usia subur dianjurkan untuk mendapat asupan sedikitnya 400 µg tiap hari (dengan peningkatan asupan makanan kaya folat atau makanan yang ditambah folat atau dalam bentuk asam folat) untuk mencegah terjadinya DTS pada janin. Asam folat juga diberikan pada pasien yang menjalani dialysis kronik disertai anemia hemolitik berat dan mielofibrosis kronik, dan pada bayi prematur. Fortifikasi makanan dengan asam folat (misalnya tepung) saat ini sedang dipertimbangkan di Inggris untuk menurunkan insidensi DTS dan mungkin penyakit kadiovaskular, serta sudah di praktikkan di AS.
Folat diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas, terikat lemah pada protein plasma, dan disimpan di hati. Pada keadaan tidak adanya asupan folat, cadangan folat biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan. Pasien-pasien pecandu alkohol yang dirawat di rumah sakit sering member respon “spontan” jika diberikan diet seimbang (Soenarto 2001).
Kebutuham minimal folat sehari-hari kira-kira 50 mg, dengan mudah diperoleh dari diet rata-rata (Soenarto 2001). Asam folat (folium) termasuk golongan vitamin B yang larut dalam air. Jadi, bila ada kelebihan folat dalam asupan atau makanan yang dikonsumsi, tak perlu khawatir karena kelebihan tersebut dapat larut dalam air. Selain itu, tak seluruhnya dari asam folat yang dimakan itu bisa diserap oleh tubuh. Paling banyak, separuh dari banyaknya asam folat yang dimakan bisa diserap tubuh (anonym 2008)
Sumber asam folat:
• Sayuran berwarna hijau tua: Bayam, kangkung, selada, asparagus, brokoli.
• Kacang-kacangan: Kacang merah, kacang kedelai, kacang hijau, termasuk juga selai kacang.
• Biji-bijian: Gandum, beras, cereal, oatmeal, termasuk juga roti gandum
• Buah-buahan: Pepaya, nenas, jeruk, pisang, alpukat, dan stroberi.
• Daging: Hati, ginjal dan beberapa organ dalam hewani lainnya
Walaupun asam folat banyak ditemukan pada sayuran, buah dan biji-bijian, dan produk daging, tetapi sulit untuk mendapatkan seluruh asam folat yang terkandung dalam makanan tersebut. Memasak makanan dengan panas tinggi dengan kompor atau microwave, atau terlalu banyak air akan mengurangi kandungan asam folat. Misalnya, 50% sampai 90% asam folat dapat hilang dengan cara memasak yang memakai banyak air. Cobalah untuk makan sayuran yang dikukus sebentar atau mentah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Anemia megaloblastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megaloblastik, sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Defisiensi asam folat dapat disebakan oleh banyak factor, yaitu asupan yang tidak adekuat, meningkatnya kebutuhan, angguan absorbsi, pemakaian obat antagonik asam folat, dan kehilangan folat yang berlebihan melalui urin.
Patofisiologi anemia megaloblastik defisiensi asam folat diawalai dari defisiensi asam folat, kemudian terjadi gangguan sintesis DNA yang mengakibatkan gangguan sintesa nucleoprotein. Setelah itu terjadi asinkronisasi maturasi inti dan sitoplasma, akhirnya terjadi megaloblastic hematopoesis, dan berakhir anemia makrositik.
Gejala anemia megaloblastik defisiensi asam folat hamper sama dengan anemia-anemia lainnya kelelahan, sesak napas, dan rasa pusing, merasa sulit bekerja, tampak lesu, mudah lelah, kurang darah, cepat mengantuk, nafas pendek, peradangan pada lidah, mual, hilangnya nafsu makan, sakit kepala, pingsan, dan agak kekuningan. Bayi tetapi bukan orang dewasa bisa mengalami kelainan neurolohis. Kekurangan asam folat pada wanita hamil bisa menyebabkan terjadinya cacat tulang belakang (korda spinalis) dan kelainan bentuk lainnya pada janin.
Gambaran laboratorik pada darah (anemia, gambaran eritrosit normokrom makrositer dan makrovalosit, leukosit PMN besar dan hipersegmentasi, trombosit dapat rendah, MCV↑, MCHC normal). Mengalami defisiensi vitamin B12 (kadar vitamin B12 serum < 100pg/mL). Sumsum tulang (semua prekusor sel hematopoetik membesar/giant metamyelosit dengan hiperplasia eritroid).
Pengobatan dilakukan sesuai dengan keadaan pasien. Bisa diberikan vitamin B12 dengan dosis yang sesuai, dan juga dilakukan pengaturan diet yang seimbang.
Saran
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan asupan asam folat dengan baik. Makan buah-buahan dan sayuran segar setiap hari. Selain itu jangan memasak sayuran terlalu lama karena panas akan menghancurkan asam folat. Jangan merokok serta jangan minum minuman yang mengandung alkohol karena itu akan mengganggu penyerapan asam folat. Minum suplemen tambahan yang dianjurkan oleh dokter.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Asam Folat bisa diperoleh dari sumber makanan alami. Http://www.pamabayoen.com/2008/02/asam-folat-bisa-diperoleh-dari-sumber.html. [17September2010].
Baldy C M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Hoffbrand A V, Pettit J E, Moss P A H. 2005. Hematologi. Jakarta: EGC.
Soenarto. 2001. Permasalahan Pengelolaan Anemia. Kedaruratan medik II 2001. Pertemuan Ilmiah Tahunan ke V Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Cabang Semarang. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Guyton Arthur C dan John E H. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Sabtu, 06 Oktober 2012
Kamis, 14 Juni 2012
PSM ( Penyakit Seks Menular)
PENYAKIT-PENYAKIT SEKS MENULAR
1. AIDS (Auto Imuno Deficiency Syndrome)
a. Penyebab
AIDS adalah percepatan paling parah infeksi dengan HIV. HIV adalah retrovirus yang menginfeksi terutama organ-organ vital dari sistem kekebalan tubuh manusia seperti sel T CD4 + (subset sel T), makrofag dan sel dendritik. Hal ini langsung maupun tidak langsung menghancurkan CD4 + T sel.
Setelah HIV telah membunuh begitu banyak CD4 + T sel-sel yang ada kurang dari 200 sel-sel per mikroliter (uL) darah, kekebalan selular hilang. Infeksi HIV berkembang dari waktu ke waktu untuk infeksi laten klinis HIV dan kemudian gejala infeksi HIV awal dan kemudian AIDS, yang diidentifikasi baik berdasarkan jumlah sel T CD4 + yang tersisa dalam darah, dan / atau kehadiran tertentu infeksi, seperti dicatat di atas.
Dalam ketiadaan terapi antiretroviral, median waktu perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS adalah sembilan sampai sepuluh tahun, dan waktu hidup rata-rata setelah mengembangkan AIDS hanya 9.2 bulan. Namun, laju perkembangan penyakit klinis sangat bervariasi antara individu, dari dua minggu sampai 20 tahun.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit.
Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan “masa window periode”.
Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.
c. Penularan
- Transmisi seksual
Penularan seksual terjadi dengan kontak antara sekresi seksual dari satu orang dengan membran mukosa rektum, alat kelamin atau mulut pasangannya. Unprotected tindakan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko dari pada tindakan seksual insertif, dan risiko penularan HIV melalui hubungan seks dubur tanpa kondom lebih besar daripada risiko dari hubungan seksual vagina atau seks oral.
Namun, seks oral tidak sepenuhnya aman, karena HIV dapat ditularkan melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual sangat meningkatkan risiko penularan HIV karena kondom jarang digunakan dan fisik trauma vagina atau dubur sering terjadi, memfasilitasi penularan HIV.
- Paparan patogen melalui darah
Ini rute transmisi sangat relevan dengan pengguna narkoba intravena, penderita hemofilia dan penerima transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HIV merupakan risiko utama untuk infeksi HIV. Rute ini juga dapat mempengaruhi orang-orang yang memberi dan menerima tato dan tindik.
- Transmisi perinatal
Transmisi virus dari ibu ke anak dapat terjadi in utero selama minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat melahirkan. Dengan tidak adanya perawatan, tingkat transmisi antara ibu dan anaknya selama kehamilan, persalinan dan melahirkan adalah 25%.
Namun, ketika ibu membutuhkan terapi antiretroviral dan melahirkan melalui operasi caesar, tingkat transmisi hanya 1%.
d. Gejala
- Saluran pernafasan
Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak,batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia).Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
- Saluran Pencernaan
Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamurpada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diare yang kronik.
- Berat badan tubuh
Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaanyang mengakibatkan diare kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
- System syaraf
Terjadinya gangguan pada persyarafan central yangmengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
- System Integument (Jaringan kulit)
Penderita mengalami serangan virus cacarair (herpes simplex) atau cacar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
- Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita.
Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah pelvic inflammatory disease (PID) dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).
e . Pengobatan
- Terapi Antivirus
Pengobatan saat ini untuk infeksi HIV terdiri dari terapi antiretroviral yang sangat aktif, atau HAART. Ini telah sangat bermanfaat bagi banyak orang yang terinfeksi HIV sejak diperkenalkan pada tahun 1996 ketika protease inhibitor ditemukannya HAART yang tersedia.
Tujuan standar HAART termasuk peningkatan kualitas hidup pasien, penurunan komplikasi, dan pengurangan HIV viremia di bawah batas deteksi, tetapi tidak menyembuhkan pasien dari HIV juga tidak mencegah kembali, setelah pengobatan dihentikan, dari kadar HIV yang tinggi, sering HAART tahan. Selain itu, akan mengambil lebih dari seumur hidup individu untuk dibersihkan dari infeksi HIV menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak orang yang terinfeksi HIV telah mengalami peningkatan luar biasa dalam kesehatan umum dan kualitas hidup, yang telah menyebabkan jatuh terkait HIV morbiditas dan mortalitas.
- Eksperimental dan Perawatan yang Diusulkan
Di Berlin, Jerman, 42-tahun leukemia pasien yang terinfeksi HIV selama lebih dari satu dekade diberi transplantasi sumsum tulang eksperimental dengan sel-sel yang mengandung varian alami yang tidak biasa dari reseptor permukaan sel-CCR5. Ini varian CCR5-Δ32 telah terbukti untuk membuat beberapa sel dari orang-orang yang lahir dengan itu tahan terhadap infeksi dengan beberapa jenis HIV. Hampir dua tahun setelah transplantasi, dan bahkan setelah pasien dilaporkan berhenti memakai obat antiretroviral, HIV tidak terdeteksi dalam darah pasien.
f. Pencegahan
1. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual. Pastikan untuk tidak berhubungan seks dengan orang yang terinveksi virus HIV. Berganti-ganti pasangan seksual sangat beresiko tinggi mudah tertular virus HIV.
2. Pencegahan penularan melalui transfusi darah. Pastikan bahwa darah yang akan di transfusi steril dari kontaminasi virus HIV.
3. Pencegahan penularan melalui kehamilan. Ibu yang terinveksi HIV sebaiknya tidak hamil.
4. Pencegahan penularan melalui penyalah gunaan obat. Penyalah gunaan narkoba dengan jarum suntik sangat mudah sekali menularkan virus HIV.
5. Pencegahan penularan melalui alat tidak steril. Setiap alat yang di gunakan untuk orang banyak yang beresiko membawa virus HIV harus disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan lisol, detol, atau alkohol.
6. Pencegahan penularan melalui pola hidup sehat. Orang-orang yang memiliki kebiasaan seks bebas, bertato, pemakaian narkoba dengan jarum termasuk mereka yang beresiko tinggi terkena AIDS. Untuk itu perlu mengubah kebiasaan untuk hidup lebih sehat dan aman.
7. Pencegahan penularan melalui pernikahan. Pernikahan dengan orang-orang yang memiliki riwayat pekerjaan atau kebiasaan hidup beresiko tinggi tertular HIV sebaiknya dilakukan tes HIV AIDS.
2. SIFILIS
a. Penyebab
Penyakit sifilis atau yang disebut dengan ‘raja singa’ disebabkan oleh Bakteri Treponema pallidum. Bakteri penyakit sifilis yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh.
Bakteri ini masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit.
Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan.
Spirochaeta penyebab penyakit sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Biasanya, penyakit sifilis banyak menyerang laki-laki di bandingkan perempuan.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi penyakit sifilis atau Raja Singa antara 10-90 hari
c. Penularan
Berdasarkan cara penularannya, sifilis dibagi menjadi 2 macam:
1. Sifilis Kongenital (Bawaan)
Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada janinnya saat persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero.
2. Sifilis Akuisita (didapat)
Sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual, luka, transfusi darah dan jarum suntik.
d. Gejala
Tahap 1
9-90 hari setelah terinfeksi, timbul luka kecil, bundar dan tidak sakit. Tepatnya pada kulit yang terpapar atau kontak langsung dengan penderita. Chancre sebagai tempat masuknya penyakit hampir selalu muncul di dalam dan sekitar genetalia, anus bahkan mulut. Pada kasus yang tidak diobati (sampai tahap 1 berakhir), setelah beberapa minggu Chancre akan menghilang tetapi bakteri tetap berada di tubuh penderita.
Tahap II
1-2 bulan kemudian, muncul gejala lain :
- Sakit tenggorokan - Rambut rontok
- Nyeri otot - Terdapat bintil
- Demam
Tahap Laten
Pada stadium ini disebut fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala-gejala klinik sifilis sekunder dan tersier ini berlangsung antara beberapa bulan sampai bertahun-tahun.
Bakteri tetap aktif dalam kelenjar getah bening dan limpa. Stadium ini bisa bertahan 3-30 tahun dan mungkin tidak berlanjut ke sifilis tersier. Sekitar 30% dari orang yang terinfeksi bertahan dalam keadaan laten.
Tahap III
Dikenal sebagai tahap akhir sifilis. Dalam stase ini akan muncul gejala kebutaan, tuli, borok pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh dan gila.
Tahap Letal
e. Pengobatan
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S IIdan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil,efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik daritetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.
Sifilis primer dan sekunder
1. Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit IM (2,4juta unit/kali) dan diberikan 1x seminggu
2. Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi IM sehariselama 10 hari.
3. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4,8 juta unit,diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak dua kali seminggu.
Sifilis laten
1. Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit
2. Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unitsehari).
3. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7,2 juta unit(diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu).
Sifilis III
1. Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit
2. Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit)3. Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 9,6 juta unit(diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu)
Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
1. Tertrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
2. Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
Untuk pasien sifilis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapatdiberikan:
1. Tetrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari
2. Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari.
*Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak
f. Pencegahan
Berpantang dari vagina, anal dan oral seks dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara 100% efektif untuk mencegah penularan seksual sifilis. Lateks kondom dapat mengurangi risiko tertular penyakit selama seks. Namun, masih mungkin untuk kontrak sifilis, meskipun menggunakan kondom, melalui luka di daerah genital. Hal ini juga penting untuk menghindari non-seksual kontak fisik dengan luka infeksi (chancres), ruam atau bercak lendir disebabkan oleh sifilis.
Ada beberapa cara pencegahan sifilis, diantaranya adalah:
• Berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama
• Memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual
• Menghindari Alkohol dan obat-obat terlarang
• Membicarakan secara terbuka mengenai riwayat penyakit kelamin yang dialami bersama pasangan
• Biasakan menggunakan kondom bila harus berhubungan seksual dengan orang yang tidak dikena
3. Gonorrhoe
a. Penyebab
Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini dapat menular ke orang lain melalui hubungan seksual dengan penderita. Penyakit ini juga dapat menular dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Kita tidak akan terinfeksi gonore dari pemakaian handuk bersama maupun pemakaian toilet umum.
Gonorrhoe juga disebabkan oleh:
- Kontak cairan dengan orang yang terinfeksi
- Kontak seksual dengan orang yang terinfeksi
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi gonorrhea sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa inkubasi sulit untuk ditentukan karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala.
c. Penularan
Jenis penyakit ini mudah menular, dan perempuan memiliki kesempatan tinggi terjangkit penyakit ini setelah satu pertemuan seksual dengan laki-laki yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama menyusui.
Tapi seperti penyakit lainnya, beberapa individu lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan yang lain. Beberapa remaja dan dewasa muda adalah kelompok dengan risiko tertinggi karena mereka adalah salah satu dari individu yang memiliki banyak pasangan seks dan mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi penghalang selama hubungan seksual. Kedua laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh penyakit ini melalui metode yang berbeda dari perilaku hubungan seksual
d. Gejala
Gejala umum yang ditunjukkan apabila seseeorang mengidap penyakit gonorrhoe yaitu:
• Sering dan buang air kecil sakit
• Nyeri dan bengkak uretra
• Tebal, putih, atau debit berdarah kekuning- kuningan dari penis atau vagina
• Mual
• Muntah
• Demam
• Kedinginan
• Rasa sakit selama hubungan seksual
• Sakit tenggorokan dan nyeri saat menelan untuk infekssi oral
• Rektal gatal dan memiliki dorongan tetap untuk mengosongkan/ mengeluarkan isi perut
• Untuk perempuan , gejala yang disertai dengan sakit perut dan pendarahan dalam periode menstruasi
Pada pria, awalnya terdapat rasa gatal dan panas di sekitar uretra, saluran yang menghantarkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh. Selanjutnya, terdapat rasa nyeri saat buang air kecil dan keluar sekret kental berwarna keruh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah. Bila infeksi sudah semakin lanjut, nyeri akan semakin bertambah dan sekret semakin kental dan keruh. Selain itu terdapat nyeri pada waktu ereksi dan terkadang terdapat pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan.
Pada wanita, gejala, kalaupun ada, dapat sangat ringan sehingga penderita tidak menyadarinya. Sebanyak 30%-60% wanita penderita gonore tidak memberikan gejala.Gejala yang timbul dapat berupa nyeri saat buang air kecil, buang air kecil menjadi lebih sering, dan kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah. Selain itu, terdapat sekret kental dan keruh yang keluar dari vagina.
e. Pengobatan
Bila menyadari mempunyai gejala-gejala seperti di atas, atau mempunyai pasangan seksual dengan gejala di atas, perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan, seperti mengambil sekret dari vagina ataupun penis untuk dianalisa. Antibiotik adalah pengobatan untuk gonore. Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati sesegera mungkin bila terdiagnosis gonore. Hal ini berlaku untuk pasangan seksual dalam 2 bulan terakhir, atau pasangan seksual terakhir bila selama 2 bulan ini tidak ada aktivitas seksual. Banyak antibiotika yang aman dan efektif untuk mengobati gonorrhea, membasmi N.gonorrhoeae, menghentikan rantai penularan, mengurangi gejala, dan mengurangi kemungkinan terjadinya gejala sisa. Pilihan utama adalah penisilin + probenesid. Antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore, antara lain:
1. Amoksisilin 2 gram + probenesid 1 gram, peroral
2. Ampisilin 2-3 gram + probenesid 1 gram. Peroral
3. Azitromisin 2 gram, peroral
4. Cefotaxim 500 mg, suntikan Intra Muskular
5. Ciprofloxacin 500 mg, peroral
6. Ofloxacin 400 mg, peroral
7. Spectinomisin 2 gram, suntikan Intra Muskular
Obat-obat tersebut diberikan dengan dosis tunggal.
f. Pencegahan
Untuk mencegah penularan gonore, gunakan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Jika menderita gonore, hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai. Walaupun sudah pernah terkena gonore, seseorang dapat terkena kembali, karena tidak akan terbentuk imunitas untuk gonore. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa untuk mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan. Selain itu, juga menyarankan para wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar.
4. HERPES SIMPLEKS
a. Penyebab
Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang mengifeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV- 2.
Dimana HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir ( herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks), biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut sedangkan HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.
Daerah yang terkena ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual seperti oral-genital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital kadang-kadang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe II.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasinya 7 sampai 12 hari.
c. Penularan
Cara penularannya bermacam-macam dan berlangsung sangat cepat. Herpes Simplex tipe dua yang menyerang kelamin biasanya menular lewat hubungan seks, baik melalui oral maupun vaginal. Jamur yang sering timbul pada area yang terkena biasanya memperparah kondisi penyakitnya. Sedangkan Herpes Simplex tipe pertama biasanya menyerang pada anak-anak yang tertular dari orang dewasa. Pada anak-anak cara penularan yang paling mudah melalui kontak fisik, seperti dicium oleh orang yang terinfeksi. Bisa juga melalui benda perantara, misalnya alat-alat kedokteran gigi yang tidak steril, sedotan, atau sendok yang bekas dipakai penderita herpes. Selain itu, virus herpes juga dapat menyebar melalui angin, debu atau udara. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa wanita karir, mudah sekali tertular. Ruang perkantoran yang ber ac seringkali menjadi media yang baik untuk penyebaran virus.
d. Gejala
Gejala Herpes diantaranya adalah
• Rasa gatal dan perih di area yang terkena. Bahkan kadang-kadang disertai rasa seperti terbakar.
• Tubuh terasa meriang, pening, pegal-pegal, dan kurang nafsu makan.
• Pada herpes kelamin, kadang-kadang penderita menjadi susah buang air kecil.
• Area yang terinfeksi biasanya berwarna kemerahan, dan menjadi sensitif, setelah itu timbul bintik-bintik merah. Jumlahnya bervariasi. Kadang-kadang hanya 1 bintik saja. Setelah beberapa hari, di area itu akan keluar bintik-bintik kecil berisi air. Bintik ini akan berubah warnanya setelah beberapa hari. Bahkan dalam kasus yang berat, bintik-bintik ini akan bernanah.
e. Pengobatan
Pengobatan herpes simpleks biasa dilakukan dengan pemberian, yaitu:
Obat antivirus
Obat antivirus dapat mengurangi frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan wabah. Obat antivirus juga mengurangi shedding asimtomatik; diyakini asimtomatik menumpahkan genital HSV-2 virus terjadi pada 20% dari hari per tahun pada pasien yang tidak menjalani pengobatan antivirus, versus 10% dari hari sedangkan pada terapi antiviral. Ada beberapa resep obat antivirus untuk mengendalikan wabah herpes simpleks, termasuk asiklovir (Zovirax), valasiklovir (Valtrex), famsiklovir (Famvir), dan penciclovir.
Penggunaan valasiklovir dan famciclovir, kepatuhan pengobatan sementara berpotensi meningkatkan dan khasiat, masih menjalani evaluasi keamanan dalam konteks ini.
Obat antivirus juga tersedia sebagai krim oles untuk mengobati wabah berulang pada bibir, walaupun efektivitasnya masih diperdebatkan. Krim penciclovir memiliki jam 7-17 lagi setengah-hidup seluler daripada krim asiklovir, meningkatkan efektivitas relatif terhadap asiklovir ketika dioleskan.
Perawatan Topikal
Docosanol, banyak digunakan dalam kosmetik sebagai bahan emollient dan penghalang, juga tersedia sebagai formula over-the-counter (OTC) obat untuk pengobatan wabah herpes simplex oral. Ia berpikir untuk mencegah HSV dari sekering ke membran sel, tapi ini belum terbukti dan diketahui bahwa docosanol juga memasuki sitoplasma sel. Obat OTC perumusan docosanol dipasarkan oleh Farmasi Avanir bawah nama Abreva. Abreva disetujui untuk digunakan setelah uji klinis oleh FDA pada bulan Juli 2000.
Abreva adalah obat over-the-counter pertama antivirus disetujui untuk dijual di Amerika Serikat dan Kanada. Penelitian yang mengarah ke lisensi Abreva menunjukkan bahwa formula OTC memperpendek waktu pemulihan ke tingkat moderat. Avanir Farmasi dan GlaxoSmithKline Consumer Healthcare adalah subjek gugatan US nasional class action Maret karena klaim menyesatkan yang dipotong waktu pemulihan di setengah.
Tromantadine tersedia sebagai gel yang menghambat masuknya dan penyebaran virus dengan mengubah komposisi permukaan sel-sel kulit dan menghambat pelepasan bahan genetik virus. Zilactin adalah pengobatan topikal penghalang analgesik, yang membentuk "tameng" di wilayah penerapan untuk mencegah sakit dari peningkatan dalam ukuran, dan mengurangi penyebaran virus selama proses penyembuhan.
Lipactin oleh Novartis lain gel over-the-counter topikal yang telah klinis terbukti mengurangi gejala dan durasi penyembuhan infeksi Herpes Simplex.
f. Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit herpes simpleks
- Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel
- Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk
- Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.
1. AIDS (Auto Imuno Deficiency Syndrome)
a. Penyebab
AIDS adalah percepatan paling parah infeksi dengan HIV. HIV adalah retrovirus yang menginfeksi terutama organ-organ vital dari sistem kekebalan tubuh manusia seperti sel T CD4 + (subset sel T), makrofag dan sel dendritik. Hal ini langsung maupun tidak langsung menghancurkan CD4 + T sel.
Setelah HIV telah membunuh begitu banyak CD4 + T sel-sel yang ada kurang dari 200 sel-sel per mikroliter (uL) darah, kekebalan selular hilang. Infeksi HIV berkembang dari waktu ke waktu untuk infeksi laten klinis HIV dan kemudian gejala infeksi HIV awal dan kemudian AIDS, yang diidentifikasi baik berdasarkan jumlah sel T CD4 + yang tersisa dalam darah, dan / atau kehadiran tertentu infeksi, seperti dicatat di atas.
Dalam ketiadaan terapi antiretroviral, median waktu perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS adalah sembilan sampai sepuluh tahun, dan waktu hidup rata-rata setelah mengembangkan AIDS hanya 9.2 bulan. Namun, laju perkembangan penyakit klinis sangat bervariasi antara individu, dari dua minggu sampai 20 tahun.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit.
Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan “masa window periode”.
Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.
c. Penularan
- Transmisi seksual
Penularan seksual terjadi dengan kontak antara sekresi seksual dari satu orang dengan membran mukosa rektum, alat kelamin atau mulut pasangannya. Unprotected tindakan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko dari pada tindakan seksual insertif, dan risiko penularan HIV melalui hubungan seks dubur tanpa kondom lebih besar daripada risiko dari hubungan seksual vagina atau seks oral.
Namun, seks oral tidak sepenuhnya aman, karena HIV dapat ditularkan melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual sangat meningkatkan risiko penularan HIV karena kondom jarang digunakan dan fisik trauma vagina atau dubur sering terjadi, memfasilitasi penularan HIV.
- Paparan patogen melalui darah
Ini rute transmisi sangat relevan dengan pengguna narkoba intravena, penderita hemofilia dan penerima transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HIV merupakan risiko utama untuk infeksi HIV. Rute ini juga dapat mempengaruhi orang-orang yang memberi dan menerima tato dan tindik.
- Transmisi perinatal
Transmisi virus dari ibu ke anak dapat terjadi in utero selama minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat melahirkan. Dengan tidak adanya perawatan, tingkat transmisi antara ibu dan anaknya selama kehamilan, persalinan dan melahirkan adalah 25%.
Namun, ketika ibu membutuhkan terapi antiretroviral dan melahirkan melalui operasi caesar, tingkat transmisi hanya 1%.
d. Gejala
- Saluran pernafasan
Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak,batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia).Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
- Saluran Pencernaan
Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamurpada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diare yang kronik.
- Berat badan tubuh
Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaanyang mengakibatkan diare kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
- System syaraf
Terjadinya gangguan pada persyarafan central yangmengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
- System Integument (Jaringan kulit)
Penderita mengalami serangan virus cacarair (herpes simplex) atau cacar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
- Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita.
Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah pelvic inflammatory disease (PID) dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).
e . Pengobatan
- Terapi Antivirus
Pengobatan saat ini untuk infeksi HIV terdiri dari terapi antiretroviral yang sangat aktif, atau HAART. Ini telah sangat bermanfaat bagi banyak orang yang terinfeksi HIV sejak diperkenalkan pada tahun 1996 ketika protease inhibitor ditemukannya HAART yang tersedia.
Tujuan standar HAART termasuk peningkatan kualitas hidup pasien, penurunan komplikasi, dan pengurangan HIV viremia di bawah batas deteksi, tetapi tidak menyembuhkan pasien dari HIV juga tidak mencegah kembali, setelah pengobatan dihentikan, dari kadar HIV yang tinggi, sering HAART tahan. Selain itu, akan mengambil lebih dari seumur hidup individu untuk dibersihkan dari infeksi HIV menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak orang yang terinfeksi HIV telah mengalami peningkatan luar biasa dalam kesehatan umum dan kualitas hidup, yang telah menyebabkan jatuh terkait HIV morbiditas dan mortalitas.
- Eksperimental dan Perawatan yang Diusulkan
Di Berlin, Jerman, 42-tahun leukemia pasien yang terinfeksi HIV selama lebih dari satu dekade diberi transplantasi sumsum tulang eksperimental dengan sel-sel yang mengandung varian alami yang tidak biasa dari reseptor permukaan sel-CCR5. Ini varian CCR5-Δ32 telah terbukti untuk membuat beberapa sel dari orang-orang yang lahir dengan itu tahan terhadap infeksi dengan beberapa jenis HIV. Hampir dua tahun setelah transplantasi, dan bahkan setelah pasien dilaporkan berhenti memakai obat antiretroviral, HIV tidak terdeteksi dalam darah pasien.
f. Pencegahan
1. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual. Pastikan untuk tidak berhubungan seks dengan orang yang terinveksi virus HIV. Berganti-ganti pasangan seksual sangat beresiko tinggi mudah tertular virus HIV.
2. Pencegahan penularan melalui transfusi darah. Pastikan bahwa darah yang akan di transfusi steril dari kontaminasi virus HIV.
3. Pencegahan penularan melalui kehamilan. Ibu yang terinveksi HIV sebaiknya tidak hamil.
4. Pencegahan penularan melalui penyalah gunaan obat. Penyalah gunaan narkoba dengan jarum suntik sangat mudah sekali menularkan virus HIV.
5. Pencegahan penularan melalui alat tidak steril. Setiap alat yang di gunakan untuk orang banyak yang beresiko membawa virus HIV harus disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan lisol, detol, atau alkohol.
6. Pencegahan penularan melalui pola hidup sehat. Orang-orang yang memiliki kebiasaan seks bebas, bertato, pemakaian narkoba dengan jarum termasuk mereka yang beresiko tinggi terkena AIDS. Untuk itu perlu mengubah kebiasaan untuk hidup lebih sehat dan aman.
7. Pencegahan penularan melalui pernikahan. Pernikahan dengan orang-orang yang memiliki riwayat pekerjaan atau kebiasaan hidup beresiko tinggi tertular HIV sebaiknya dilakukan tes HIV AIDS.
2. SIFILIS
a. Penyebab
Penyakit sifilis atau yang disebut dengan ‘raja singa’ disebabkan oleh Bakteri Treponema pallidum. Bakteri penyakit sifilis yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh.
Bakteri ini masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit.
Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan.
Spirochaeta penyebab penyakit sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Biasanya, penyakit sifilis banyak menyerang laki-laki di bandingkan perempuan.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi penyakit sifilis atau Raja Singa antara 10-90 hari
c. Penularan
Berdasarkan cara penularannya, sifilis dibagi menjadi 2 macam:
1. Sifilis Kongenital (Bawaan)
Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada janinnya saat persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero.
2. Sifilis Akuisita (didapat)
Sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual, luka, transfusi darah dan jarum suntik.
d. Gejala
Tahap 1
9-90 hari setelah terinfeksi, timbul luka kecil, bundar dan tidak sakit. Tepatnya pada kulit yang terpapar atau kontak langsung dengan penderita. Chancre sebagai tempat masuknya penyakit hampir selalu muncul di dalam dan sekitar genetalia, anus bahkan mulut. Pada kasus yang tidak diobati (sampai tahap 1 berakhir), setelah beberapa minggu Chancre akan menghilang tetapi bakteri tetap berada di tubuh penderita.
Tahap II
1-2 bulan kemudian, muncul gejala lain :
- Sakit tenggorokan - Rambut rontok
- Nyeri otot - Terdapat bintil
- Demam
Tahap Laten
Pada stadium ini disebut fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala-gejala klinik sifilis sekunder dan tersier ini berlangsung antara beberapa bulan sampai bertahun-tahun.
Bakteri tetap aktif dalam kelenjar getah bening dan limpa. Stadium ini bisa bertahan 3-30 tahun dan mungkin tidak berlanjut ke sifilis tersier. Sekitar 30% dari orang yang terinfeksi bertahan dalam keadaan laten.
Tahap III
Dikenal sebagai tahap akhir sifilis. Dalam stase ini akan muncul gejala kebutaan, tuli, borok pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh dan gila.
Tahap Letal
e. Pengobatan
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S IIdan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil,efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik daritetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.
Sifilis primer dan sekunder
1. Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit IM (2,4juta unit/kali) dan diberikan 1x seminggu
2. Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi IM sehariselama 10 hari.
3. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4,8 juta unit,diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak dua kali seminggu.
Sifilis laten
1. Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit
2. Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unitsehari).
3. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7,2 juta unit(diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu).
Sifilis III
1. Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit
2. Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit)3. Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 9,6 juta unit(diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu)
Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
1. Tertrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
2. Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
Untuk pasien sifilis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapatdiberikan:
1. Tetrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari
2. Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari.
*Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak
f. Pencegahan
Berpantang dari vagina, anal dan oral seks dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara 100% efektif untuk mencegah penularan seksual sifilis. Lateks kondom dapat mengurangi risiko tertular penyakit selama seks. Namun, masih mungkin untuk kontrak sifilis, meskipun menggunakan kondom, melalui luka di daerah genital. Hal ini juga penting untuk menghindari non-seksual kontak fisik dengan luka infeksi (chancres), ruam atau bercak lendir disebabkan oleh sifilis.
Ada beberapa cara pencegahan sifilis, diantaranya adalah:
• Berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama
• Memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual
• Menghindari Alkohol dan obat-obat terlarang
• Membicarakan secara terbuka mengenai riwayat penyakit kelamin yang dialami bersama pasangan
• Biasakan menggunakan kondom bila harus berhubungan seksual dengan orang yang tidak dikena
3. Gonorrhoe
a. Penyebab
Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini dapat menular ke orang lain melalui hubungan seksual dengan penderita. Penyakit ini juga dapat menular dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Kita tidak akan terinfeksi gonore dari pemakaian handuk bersama maupun pemakaian toilet umum.
Gonorrhoe juga disebabkan oleh:
- Kontak cairan dengan orang yang terinfeksi
- Kontak seksual dengan orang yang terinfeksi
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasi gonorrhea sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa inkubasi sulit untuk ditentukan karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala.
c. Penularan
Jenis penyakit ini mudah menular, dan perempuan memiliki kesempatan tinggi terjangkit penyakit ini setelah satu pertemuan seksual dengan laki-laki yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama menyusui.
Tapi seperti penyakit lainnya, beberapa individu lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan yang lain. Beberapa remaja dan dewasa muda adalah kelompok dengan risiko tertinggi karena mereka adalah salah satu dari individu yang memiliki banyak pasangan seks dan mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi penghalang selama hubungan seksual. Kedua laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh penyakit ini melalui metode yang berbeda dari perilaku hubungan seksual
d. Gejala
Gejala umum yang ditunjukkan apabila seseeorang mengidap penyakit gonorrhoe yaitu:
• Sering dan buang air kecil sakit
• Nyeri dan bengkak uretra
• Tebal, putih, atau debit berdarah kekuning- kuningan dari penis atau vagina
• Mual
• Muntah
• Demam
• Kedinginan
• Rasa sakit selama hubungan seksual
• Sakit tenggorokan dan nyeri saat menelan untuk infekssi oral
• Rektal gatal dan memiliki dorongan tetap untuk mengosongkan/ mengeluarkan isi perut
• Untuk perempuan , gejala yang disertai dengan sakit perut dan pendarahan dalam periode menstruasi
Pada pria, awalnya terdapat rasa gatal dan panas di sekitar uretra, saluran yang menghantarkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh. Selanjutnya, terdapat rasa nyeri saat buang air kecil dan keluar sekret kental berwarna keruh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah. Bila infeksi sudah semakin lanjut, nyeri akan semakin bertambah dan sekret semakin kental dan keruh. Selain itu terdapat nyeri pada waktu ereksi dan terkadang terdapat pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan.
Pada wanita, gejala, kalaupun ada, dapat sangat ringan sehingga penderita tidak menyadarinya. Sebanyak 30%-60% wanita penderita gonore tidak memberikan gejala.Gejala yang timbul dapat berupa nyeri saat buang air kecil, buang air kecil menjadi lebih sering, dan kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah. Selain itu, terdapat sekret kental dan keruh yang keluar dari vagina.
e. Pengobatan
Bila menyadari mempunyai gejala-gejala seperti di atas, atau mempunyai pasangan seksual dengan gejala di atas, perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan, seperti mengambil sekret dari vagina ataupun penis untuk dianalisa. Antibiotik adalah pengobatan untuk gonore. Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati sesegera mungkin bila terdiagnosis gonore. Hal ini berlaku untuk pasangan seksual dalam 2 bulan terakhir, atau pasangan seksual terakhir bila selama 2 bulan ini tidak ada aktivitas seksual. Banyak antibiotika yang aman dan efektif untuk mengobati gonorrhea, membasmi N.gonorrhoeae, menghentikan rantai penularan, mengurangi gejala, dan mengurangi kemungkinan terjadinya gejala sisa. Pilihan utama adalah penisilin + probenesid. Antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore, antara lain:
1. Amoksisilin 2 gram + probenesid 1 gram, peroral
2. Ampisilin 2-3 gram + probenesid 1 gram. Peroral
3. Azitromisin 2 gram, peroral
4. Cefotaxim 500 mg, suntikan Intra Muskular
5. Ciprofloxacin 500 mg, peroral
6. Ofloxacin 400 mg, peroral
7. Spectinomisin 2 gram, suntikan Intra Muskular
Obat-obat tersebut diberikan dengan dosis tunggal.
f. Pencegahan
Untuk mencegah penularan gonore, gunakan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Jika menderita gonore, hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai. Walaupun sudah pernah terkena gonore, seseorang dapat terkena kembali, karena tidak akan terbentuk imunitas untuk gonore. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa untuk mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan. Selain itu, juga menyarankan para wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar.
4. HERPES SIMPLEKS
a. Penyebab
Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang mengifeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV- 2.
Dimana HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir ( herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks), biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut sedangkan HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.
Daerah yang terkena ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual seperti oral-genital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital kadang-kadang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe II.
b. Masa Inkubasi
Masa inkubasinya 7 sampai 12 hari.
c. Penularan
Cara penularannya bermacam-macam dan berlangsung sangat cepat. Herpes Simplex tipe dua yang menyerang kelamin biasanya menular lewat hubungan seks, baik melalui oral maupun vaginal. Jamur yang sering timbul pada area yang terkena biasanya memperparah kondisi penyakitnya. Sedangkan Herpes Simplex tipe pertama biasanya menyerang pada anak-anak yang tertular dari orang dewasa. Pada anak-anak cara penularan yang paling mudah melalui kontak fisik, seperti dicium oleh orang yang terinfeksi. Bisa juga melalui benda perantara, misalnya alat-alat kedokteran gigi yang tidak steril, sedotan, atau sendok yang bekas dipakai penderita herpes. Selain itu, virus herpes juga dapat menyebar melalui angin, debu atau udara. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa wanita karir, mudah sekali tertular. Ruang perkantoran yang ber ac seringkali menjadi media yang baik untuk penyebaran virus.
d. Gejala
Gejala Herpes diantaranya adalah
• Rasa gatal dan perih di area yang terkena. Bahkan kadang-kadang disertai rasa seperti terbakar.
• Tubuh terasa meriang, pening, pegal-pegal, dan kurang nafsu makan.
• Pada herpes kelamin, kadang-kadang penderita menjadi susah buang air kecil.
• Area yang terinfeksi biasanya berwarna kemerahan, dan menjadi sensitif, setelah itu timbul bintik-bintik merah. Jumlahnya bervariasi. Kadang-kadang hanya 1 bintik saja. Setelah beberapa hari, di area itu akan keluar bintik-bintik kecil berisi air. Bintik ini akan berubah warnanya setelah beberapa hari. Bahkan dalam kasus yang berat, bintik-bintik ini akan bernanah.
e. Pengobatan
Pengobatan herpes simpleks biasa dilakukan dengan pemberian, yaitu:
Obat antivirus
Obat antivirus dapat mengurangi frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan wabah. Obat antivirus juga mengurangi shedding asimtomatik; diyakini asimtomatik menumpahkan genital HSV-2 virus terjadi pada 20% dari hari per tahun pada pasien yang tidak menjalani pengobatan antivirus, versus 10% dari hari sedangkan pada terapi antiviral. Ada beberapa resep obat antivirus untuk mengendalikan wabah herpes simpleks, termasuk asiklovir (Zovirax), valasiklovir (Valtrex), famsiklovir (Famvir), dan penciclovir.
Penggunaan valasiklovir dan famciclovir, kepatuhan pengobatan sementara berpotensi meningkatkan dan khasiat, masih menjalani evaluasi keamanan dalam konteks ini.
Obat antivirus juga tersedia sebagai krim oles untuk mengobati wabah berulang pada bibir, walaupun efektivitasnya masih diperdebatkan. Krim penciclovir memiliki jam 7-17 lagi setengah-hidup seluler daripada krim asiklovir, meningkatkan efektivitas relatif terhadap asiklovir ketika dioleskan.
Perawatan Topikal
Docosanol, banyak digunakan dalam kosmetik sebagai bahan emollient dan penghalang, juga tersedia sebagai formula over-the-counter (OTC) obat untuk pengobatan wabah herpes simplex oral. Ia berpikir untuk mencegah HSV dari sekering ke membran sel, tapi ini belum terbukti dan diketahui bahwa docosanol juga memasuki sitoplasma sel. Obat OTC perumusan docosanol dipasarkan oleh Farmasi Avanir bawah nama Abreva. Abreva disetujui untuk digunakan setelah uji klinis oleh FDA pada bulan Juli 2000.
Abreva adalah obat over-the-counter pertama antivirus disetujui untuk dijual di Amerika Serikat dan Kanada. Penelitian yang mengarah ke lisensi Abreva menunjukkan bahwa formula OTC memperpendek waktu pemulihan ke tingkat moderat. Avanir Farmasi dan GlaxoSmithKline Consumer Healthcare adalah subjek gugatan US nasional class action Maret karena klaim menyesatkan yang dipotong waktu pemulihan di setengah.
Tromantadine tersedia sebagai gel yang menghambat masuknya dan penyebaran virus dengan mengubah komposisi permukaan sel-sel kulit dan menghambat pelepasan bahan genetik virus. Zilactin adalah pengobatan topikal penghalang analgesik, yang membentuk "tameng" di wilayah penerapan untuk mencegah sakit dari peningkatan dalam ukuran, dan mengurangi penyebaran virus selama proses penyembuhan.
Lipactin oleh Novartis lain gel over-the-counter topikal yang telah klinis terbukti mengurangi gejala dan durasi penyembuhan infeksi Herpes Simplex.
f. Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit herpes simpleks
- Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel
- Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk
- Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.
Kamis, 31 Mei 2012
Makalah Macam-macam Cacing
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakitini. (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:1).
B. Rumusan Masalah
Macam – macam cacing
Siklus hidup cacing
Gejala terkena cacing
Diagnosa cacing
Obat-obat cacing
Cara Pencegahan cacing
C. Tujuan
Memahami Pengertian cacing, siklus hidup, cara penularan, penyebab dan bagaimana cara pengobatan penderita cacing pada umumnya. Serta berusaha sebaik mungkin untuk mencegah terinfeksi cacing.
D. Metode pengumpulan data
Data-data penunjang makalh ini diperoleh dari buku-buku mikrobiologi yang menjelaskan tentang cacing serta dari Internet.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Macam –macam cacing
1.1 Cacing tanah
Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32 Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain.
Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.
1.2 Cacing tambang
Cacing tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki.Larva akan berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru paru lalu dibatukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen.
Hospes parasitini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat padamucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira- kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvarabditif orm. Dalam waktu sekitar 3 hari l a rva tumbuh menjadilarva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40mi kron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larvaikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru.
1.3 Cacing pita
Cacing pita adalah parasit manusia dan hewan ternak. Ada tiga jenis cacing pita yang menjadikan manusia sebagai inang antara maupun inang permanen:
• Cacing pita sapi (Taenia sagita)
Taenia saginata adalah raksasa di antara semua cacing parasit. Panjang taenia saginata bisa mencapai 8 meter, hampir sepanjang saluran pencernaan manusia dewasa. Cacing pita ini berwarna putih pucat, tanpa mulut, tanpa anus dan tanpa saluran pencernaan. Badannya tidak berongga dan terdiri dari segmen-segmen berukuran 1X1,5 cm. Taenia saginata bisa hidup sampai 25 tahun di dalam usus inangnya.
• Cacing pita babi (Taenia solium)
Taenia solium adalah kerabat dekat Taenia saginata yang memiliki siklus hidup hampir sama, namun inang perantaranya adalah babi. Manusia terinfeksi dengan memakan daging babi berisi kista Taenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari Taenia saginata (3-4 m panjangnya), tetapi lebih berbahaya. Berbeda dengan Taenia saginata yang hanya membentuk kista di daging sapi, Taenia solium juga mengembangkan kista di tubuh manusia yang menelan telurnya. Kista tersebut dapat terbentuk di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah serius. Selanjutnya, jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat mereka akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu kesehatan.
• Cacing pita ikan
Infeksi Cacing Pita Ikan (Difilobatriasis) merupakan infeksi usus karena cacing pita dewasa Diphyllobothrium latum.
Infeksi ini banyak ditemukan di Eropa (terutama Skandinavia), Jepang, Afrika, Amerika Selatan, Kanada dan Amerika (terutama Alaska dan daerah Great Lake). Infeksi sering terjadi akibat memakan ikan air tawar mentah atau dimasak belum matang betul.
Cacing pita dewasa dinamakan Diphyllobothrium latum.
Cacing dewasa memiliki beribu-ribu proglotid (bagian yang mengandung telur) dan panjangnya sampai 450-900 cm. Telurnya dikeluarkan dari proglotid di dalam usus dan dibuang melalui tinja. Telur akan mengeram dalam air tawar dan menghasilkan embrio, yang akan termakan oleh krustasea (binatang berkulit keras seperti udang, kepiting). Selanjutnya krustasea dimakan oleh ikan. Manusia terinfeksi bila memakan ikan air tawar terinfeksi yang mentah atau yang dimasak belum sampai matang.
1.4 Cacing Pipih
Tubuhnya memipih badan berbentuk pita. Cacing ini simetris bilateral, mempunyai sisi kanan dan kiri, permukaan dorsal dan ventral, bagian anterior dan posterior. Tipe simetris semacam ini dikaitkan dengan gerakan yang aktif. Cacing pipih yang hidup di air tawar misalnya Plenaria, dapat bergerak cepat. Bila planaria berada pada permukaan substrat/tanah mengeluarkan lendir di bawah tubuhnya, dan bergerak maju di atas lendir ini menggerakkan silianya. Bila planaria berada di dalam air dapat berenang dengan cara menggerakkan tubuhnya seperti gelombang. Dengan demikian planaria dapat bergerak bebas sehingga dapat mencari makanan secara aktif.
1.5 Cacing Filaria
Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut filaria. Pernahkah Anda mendengar penyakit kaki gajah (elephantiasis). Terlihat kaki penderita menjadi bengkak, mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini, demikian seterusnya.
1.6 Cacing Kremi
Cacing yang memegang peranan disini adalah Enterobius vermikularis yang sering banget terjadi pada anak kecil. Cacing dewasa akan tinggal di usus besar. Cacing betina yang akan bertelur meninggalkan usus besar menuju anus yang merupakan tempat bertelur yang paling ideal. Saat inilah si anak akan menangis karena lubang anusnya gatal. Secara kasat mata, cacing ini akan terlihat sebesar parutan kelapa disekitar lubang anus. Transmisi cacing ini seperti halnya cacing perut masuk langsung melalui mulut baik dengan perantara makanan maupun dimasukan secara tidak sengaja oleh penderita yang habis menggaruk lubang anusnya yang gatal. Sehingga pada anak anak sering terjadi reinfeksi akibat tindakan itu.
1.7 Cacing Gelang
Biasanya disebabkan oleh keluarga cacing Askaris lumbricoides yang merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia. Cacing dewasa hidup di dalam usus manusia bagian atas, dan melepaskan telurnya di dalam kotoran manusia. Infeksi pada manusia terjadi melalui jalan makanan yang tercemar oleh kotoran yang mengandung telur cacing. Telur yang tertelan akan mengeluarkan larva. Larva ini akan menembus dinding usus masuk ke aliran darah yang akhirnya sampai ke paru paru lalu akan dibatukan keluar dan ditelan kembali ke usus. Penyulit yang timbul dari infeksi ini antara lain anemia, obstruksi saluran empedu, radang pankreas dan usus buntu.
1.8 Cacing Cambuk
Cacing dewasa akan tinggal di usus bagian bawah dan melepaskan telurnya ke luar tubuh manusia bersama kotoran. Telur yang tertelan selanjutnya akan menetas di dalam usus halus dan hidup sampai dewasa disana. Gejala yang timbul pada penderita cacing cambuk antara lain nyeri abdomen, diare dan usus buntu.
1.9. Cacing jantung
Cacing jantung atau nama ilmiahnya Dirofilaria immitis merupakan penyakit serius bagi anjing dan kucing dan sering kali membawa maut bila tak dirawat. Cacing yang disebar melalui vektor nyamuk Anopheles, tinggal di dalam arteri pulmonari menyebabkan kerusakan kepada jantung dan paru-paru.
Obat kelas avermectin digunakan secara meluas untuk mencegah penularan, tetapi American Heartworm Society memperkirakan sekitar 27 juta anjing di Amerika Serikat tidak dirawat.Kasus Dirofilaria immitis dijumpai di seluruh negara bagian di AS dan survey yang dilakukan oleh para dokter hewan pada 2002 melaporkan 244.000 kasus menunjukkan positif untuk uji cacing jantung (heartworm).
2. Siklus hidup cacing
2.1 Siklus hidup cacing tanah
Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.
Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanahSetelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidinsLumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing properti.
2.2 Siklus hidup cacing tambang
Cacing tambang dewasa berada dalam usus kecil manusia, di mana mereka melekatkan diri di dinding usus dengan mulut mereka. Mereka makan darah dan menyebabkan perdarahan di usus yang ditempati.
Cacing betina memproduksi telur cacing, yang dikeluarkan lewat tinja. Jika tinja jatuh ke tanah, dan cuaca hangat, telur cacing akan menetas menjadi larva dalam waktu sekitar dua hari. Larva kemudian menjadi dewasa dalam seminggu, dan dapat bertahan untuk waktu yang lama jika kondisi mendukung. Larva yang mendapatkan kontak dengan kaki telanjang manusia akan menembus kulit kaki dan masuk ke paru-paru melalui sirkulasi darah. Larva kemudian bergerak ke saluran udara menuju tenggorokan dan tertelan. Mereka menuju ke usus kecil. Larva lalu melekat pada dinding usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Pada sekitar usia lima bulan, cacing mulai memproduksi telur.
Infeksi cacing tambang biasanya tidak memberikan gejala spesifik. Anemia (kekurangan darah) dan keluhan terkait peradangan usus seperti mual, sakit perut dan diare adalah beberapa gejala yang mungkin timbul.
2.3 siklus hidup cacing kremi
Telur cacing kremi dapat menempel pada tangan Anda melalui kotoran manusia. Ketika tangan Anda yang tercemar masuk ke mulut Anda, telur dapat masuk ke dalam tubuh, menetas dalam usus kecil dan bergerak turun ke usus besar. Di sana cacing kremi melekat pada dinding usus dan makan. Ketika mereka siap bertelur, cacing pindah dan bertelur pada kulit berlipat di sekitar dubur. Saat itulah Anda mungkin curiga terkena cacingan karena merasakan gatal-gatal di sekitar anus (pruritus) yang biasanya lebih intens di malam hari. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan dari menelan telur cacing ke merasakan gatal-gatal di anus. Cacing kremi dewasa berukuran 3-10 mm sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang.
Telur cacing kremi dapat bertahan hidup hingga tiga minggu. Karena bentuknya yang sangat kecil, Anda tidak dapat melihatnya sehingga bisa tanpa sengaja tertulari ketika menggunakan baju, kasur, bantal, mainan anak, uang kertas, peralatan makan, atau peralatan mandi/toilet.
Untuk memastikan apakah gatal-gatal disebabkan oleh cacing kremi, Anda dapat meletakkan sepotong selotip di anus. Semua cacing atau telur akan menempel ke selotip. Lalu bawalah selotip itu ke dokter untuk diperiksa.
2.4 Siklus hidup cacing pita
Cacing pita Taenia dewasa hidup dalam usus manusia yang merupakan induk semang definitif. Segmen tubuh Taenia yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus manusia atau secara pasif bersama-sama feses manusia. Bila inang definitif (manusia) maupun inang antara (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio (onchosphere) yang kemudian menembus dinding usus. Embrio cacing yang mengikuti sirkulasi darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi sistiserkosis yang infektif di dalam otot tertentu. Otot yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, diafragma, lidah, otot pengunyah, daerah esofagus, leher dan otot antar tulang rusuk.
Infeksi Taenia dikenal dengan istilah Taeniasis dan Sistiserkosis. Taeniasis adalah penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya. Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesies Taenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi. sementara Taenia saginata dikenal juga sebagai cacing pita sapi.
Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva Taenia (sistiserkus) akibat termakan telur cacing Taenia solium (cacing pita babi). Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia. Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam
Siklus hidup Taenia saginata:
Cacing pita sapi memiliki siklus yang rumit dan berakhir pada manusia sebagai inang tetapnya. Cacing pita dewasa melepaskan telur-telurnya bersama segmen badannya. Segmen ini bila mengering di udara luar akan melepaskan telur-telur cacing yang dapat termakan oleh sapi saat merumput. Enzim pencernaan sapi membuat telur menetas dan melepaskan zigot yang kemudian menembus lapisan mukosa saluran pencernaan untuk memasuki sirkulasi darah. Dari pembuluh darah, zigot akan menetap di otot membentuk kista, seperti pada cacing cambuk. Bila daging sapi berisi kista tersebut dimakan manusia dalam keadaaan mentah atau setengah matang, enzim-enzim pencernaan akan memecah kista dan melepaskan larva cacing. Selanjutnya, larva cacing yang menempel di usus kecil akan berkembang hingga mencapai 5 meter dalam waktu tiga bulan.
Selain masalah gizi, kehadiran cacing pita umumnya menyebabkan gejala perut ringan sampai sedang (mual, sakit, dll).
2.5 Siklus hidup cacing cambuk
Manusia terinfeksi karena memakan daging mentah atau setengah matang dari hewan yang terinfeksi, terutama babi, babi hutan, dan beruang. Larva lalu masuk ke usus kecil, menembus mukosa, dan menjadi dewasa dalam 6-8 hari. Cacing betina dewasa melepaskan larva yang bisa bertahan hidup sampai 6 minggu. Larva yang baru lahir bermigrasi melalui aliran darah dan jaringan tubuh, tetapi akhirnya hanya bertahan di sel otot rangka lurik. Larva mengkista (encyst) sepenuhnya dalam 1-2 bulan dan tetap hidup hingga beberapa tahun sebagai parasit intraselular. Larva yang mati akhirnya diserap kembali tubuh. Siklus ini terus berlanjut hanya jika larva mengkista dicerna oleh karnivora lain.
Gejala awal infeksi cacing cambuk termasuk edema, nyeri otot, dan demam.
2.6 Siklus hidup cacing filaria
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini, demikian seterusnya.
2.7 Siklus hidup cacing pipih
Tubuh planaria terdiri dari tiga lapisan embrional. Lapisan terluar disebut ekstoderm, lapisan dalam disebut endoderm. Endoderm membatasi rongga gastrovaskuler. Diantara ekstoderm dan endoderm terdapat lapisan mesoderm. Mesoderm terdiri dari jaringan ikat yang longgar. Pada mesoderm terdapat organ-organ misalnya organ kelamin jantan dan betina. Filum ini terdiri atas 6000 spesies yang digolongkan menjadi tiga kelas.
1. kelas Turbellaria
Semua cacing berambut getar yang termasuk tubellaria hidup secara bebas. Sebagian besar hewan yang termasuk mempunyai susunan tubuh yang sederhana. Cacing-cacing ini dapat kita temukan pada tanah-tanah lembab dan juga di perairan baik asin maupun tawar.
2. kelas Trematoda
Semua anggota kelas ini hidup secara parasit. Cacing menghisap makanan dari inang dengan mempergunakan batil penghisap yang terdapat di permukaan ventral. Kebanyakan larva dari cacing ynag termasuk termatroda hidup secara parasit. Inang yang ditumpangi larva berbeda dengan inang yang ditumpangi cacing dewasa. Inang dari larva biasanya siput-siputan. Cacing hati merupakan parasit yang berbahaya bagi domba dan lembu. Schistosoma dan cacing paru-paru merupakan parasit yang berbahaya bagi manusia yang hidup di daerah tropis.
3. kelas Cestoda
Cestoda atau cacing pita juga hidup secara parasit. Cacing pita dewasa hidup di dalam usus inang dan menghisap sari makanan. Bentuk Cestoda seperti pita terdiri dari untaian progtogled masing progtogled hidup sendiri. Untaian progtogled dapat mencapai panjang lebih dari 30 meter.
Dalam siklus hidupnya sebagian besar cacing pita membutuhkan dua atau lebih inang. Kalau daging yang mengandung cacing pita tidak dimasak sempurna kemudian termakan oleh orang, maka orang tersebut akan terserang cacing pita. Cacing pita tidak memiliki alat pencernaan dan indra. Dalam evolusi mungkin hewan ini hasil perkembangan dari cacing pita yang hidup secara bebas. Dalam proses perkembangannya, alat pencernaan dan alat indera tidak lagi sesuai dengan cara hidup parasit.
3. Gejala terkena cacing
Secara umum gejala yang terjadi apabila seseorang mengalami kecacingan adalah:
Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk jenis cacing Enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus, biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah peri-anal (sekeliling anus). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat diambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.
3.1 Cacing Tambang
Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Jumlah darah yang hiIang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing, terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan kapiler arteri; (2) species cacing : seekorA. duodenaleyang lebih besar daripada N. americanus mengisap 5x lebih banyak darah;
(3) lamanyainfeksi. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbanganzat besi dan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terhadapinfeksi parasit. Beratnya penyakit cacing tambang tergantung pada beberapafaktor, antaza lain umur,"wormload," lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita. Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan :
I. Infeksi ringan dengan kehilangan darahyang dapat diatasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun terhadap penyakit lain.
II.infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai keluhan pencernaan, anemia, lemah, fisik dan mentaI kurang baik.
III.infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaanfisik buruk dan payah jantung dengan segala akibatnya.
Gejala lainnya adalah Ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch) bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit. Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa terjadi akbiat berpindahnya larva melalui paru-paru. Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri di perut bagian atas. Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus.
Kehilangan darah yang berat dan berlangsung lama, bisa menyebabkan pertumbuhan yang lambat, gagal jantung dan pembengkakan jaringan yang meluas pada anak- anak. (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:11).
3.2 Cacing Kremi
Gejalanya berupa:
1. Rasa gatal hebat di sekitar anus
2. Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
3. Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya di sana)
4. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi yang berat)
5. Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam vagina)
6. Kulit di sekitar anus menjadi lecet, kasar, atau terjadi infeksi (akibat penggaruka
3.3 Cacing gelang
Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa.
Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak napas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.
Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.
3.4 Cacing pita
Cacing pita Taenia dapat menimbulkan penyakit yang disebut taeniasis dan sistiserkosis. Gejala klinis terbanyak yang dikeluhkan adalah:
• Pengeluaran segmen tubuh cacing dalam fesesnya (95%)
• Gatal-gatal pada anus (77%)
• Mual (46%)
• Pusing (42%)
• Peningkatan nafsu makan (30%)
• Sakit kepala (26%)
• Diare (18%)
• Lemah (17%)
• Merasa lapar (16%)
• Sembelit (11%)
• Penurunan berat badan (6%)
• Rasa tidak enak di lambung (5%)
• Letih (4%)
• Muntah (4%)
• Tidak ada selera makan saat lapar (1%)
• Pegal-pegal pada otot (1%)
• Nyeri di perut, mengantuk, serta kejang-kejang, gelisah, gatal-gatal di kulit dan gangguan pernafasan (masing-masing <1%).
Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit dalam tubuh. Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan sistiserkus di jaringan tubuh yang berbeda-beda. Sistiserkus pada manusia paling sering ditemukan di otak (disebut neurosistiserkosis), mata, otot dan lapisan bawah kulit.
Cacing pita babi gejalanya
Infeksi oleh cacing dewasa biasanya tidak menyebabkan gejala. Infeksi yang berat oleh kista bisa menyebabkan nyeri otot, lemah dan demam. Bila infeksi sampai ke otak dan selaputnya, bisa menimbulkan peradangan, dan bisa terjadi kejang.
Cacing pita ikan gejalanya
Infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun beberapa penderita mengalami gangguan usus yang ringan.Kadang cacing pita menyebabkan anemia.
4. Diagnosa Cacing
4.1 Cacing Pita
Pada infeksi cacing dewasa, telur bisa ditemukan disekeliling dubur atau di dalam tinja. Proglotid atau kepala cacing harus ditemukan di dalam tinja dan diperiksa dengan mikroskop untuk membedakannya dari cacing pita lainnya. Kista hidup di dalam jaringan (misalnya di otak) dan bisa dilihat dengan CT atau MRI. Kadang-kadang kista bisa ditemukan pada pemeriksaan laboratorium dari jaringan yang diambil dari bintil di kulit. Juga bisa dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap parasit.
4.2 Cacing Kremi
Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif bergerak.
Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.
5. Pengobatan cacing
5.1 Cacing kremi
Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus meminum obat tersebut karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang lainnya.
Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke daerah sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari.
Meskipun telah diobati, sering terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke dalam tinja selama seminggu setelah pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa.
5.2 Cacing Gelang
Pengobatan askariasis dapat digunakan obat-obat sepreti pirantel pamoat, aspirin, paracetamol, decolgen.
Pada umumnya, askariasis memiliki prognosis yang baik. Kesembuhan askariasis mencapai 700 hingga 999%.
5.3 Cacing Pita
Pengendalian cacing pita Taenia dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui diagnosa dini dan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi. Beberapa obat cacing yang dapat digunakan yaitu Atabrin, Librax dan Niclosamide dan Praziquantel. Sedangkan untuk mengobati sistiserkosis dapat digunakan Albendazole dan Dexamethasone. Untuk mengurangi kemungkinan infeksi oleh Taenia ke manusia maupun hewan diperlukan peningkatan daya tahan tubuh inang. Hal ini dapat dilakukan melalui vaksinasi pada ternak, terutama babi di daerah endemis taeniasis/sistiserkosis serta peningkatan kualitas dan kecukupan gizi pada manusia.
6. Cara pencegahan terkena cacing
Cacingan bisa dicegah dengan mencuci badan, terutama tangan dan kaki dengan air dan sabun dengan bersih.
Saat salah satu anggota keluarga terkena cacingan, maka semua orang di rumah harus dirawat. Seprai, handuk dan pakaian yang dipakai pada dua hari sebelumnya harus dicuci dengan dengan air hangat dan detergen.
* Hati-hati bila maka makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi masih kurang
* Masak bahan makanan sampai matang
* Selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi/WC atau sebelum memegang makanan
* Infeksi cacing tambang bisa dihindari dengan selalu mengenakan alas kaki.
* Gunakan desinfektan setiap hari di tempat mandi dan tempat buang air besar.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Makalah ini menjelaskan tentang macam-macam cacing yaitu cacing tanah, cacing tambang, cacing kremi, cacing pita, cacing pipih dll. Dan dalam makalah ini juga dijelaskan siklus hidup cacing, serta pencegahan yang di lakukan untuk terhindar dari penyakit cacing.
Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Daur hidup cacing adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvar abditif orm. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Gejalanya adalah Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus.penularanmelalui larva cacing yang terdapat di tanah yangmenembus kulit, Pengobatan dengan anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat.
Upaya pencegahan dan penanggulangan harus terus dilakukan agar terhindar dari permasalahan kecacingan , hal ini penting agar permasalahan kecacingan dan dampaknya terhadap tumbuh kembang misalnya anak-anak seperti kurang gizi dapat dicegah.
2. Saran
1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuciber sih dengan air.
2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
5. Bila sudah terjadi infeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut
LAMPIRAN
Cacing Tanah Cacing Tambang
Cacing Gelang Cacing Pita
Cacing Kremi Cacing Cambuk
Cacing Filaria Cacing Askariasis
DAFTAR PUSTAKA
http://turunberatbadan.com/1186/penyebab-cacingan/
http://www.arali2008.wordfres.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tambang
http://www.scribd.com/search?cat=cacing+tambang&sq=Search#913
http://makalah-kesehatan-online.blogspot.com/2008/12/cacing-cacing-yang-berkeliaran-di-tubuh.html
Drs.tan Hoan Tjay dan Drs kirana Rahardja, 2007,obat-obat penting, Jakarta, PT Elex Media Komputindo.
Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Padmasutra, Leshmana, dr. 2007. Catatan Kuliah:Ascaris lumbricoides. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/jenis-jenis_cacing
http://id.wikipedia.org/wiki/cacing-pipih dan cacing_tambang
28 October 2010 Kategori: Kesehatan Anak, Pencernaan, 5 Jenis Cacing Penyebab Cacingan
^ NSWHealth.Penyakit menular anak-anak.http://www.health.nsw.gov.au/mhcs/publication_pdfs/5980/DOH-5980-IND.pdf : Januari 2002
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakitini. (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:1).
B. Rumusan Masalah
Macam – macam cacing
Siklus hidup cacing
Gejala terkena cacing
Diagnosa cacing
Obat-obat cacing
Cara Pencegahan cacing
C. Tujuan
Memahami Pengertian cacing, siklus hidup, cara penularan, penyebab dan bagaimana cara pengobatan penderita cacing pada umumnya. Serta berusaha sebaik mungkin untuk mencegah terinfeksi cacing.
D. Metode pengumpulan data
Data-data penunjang makalh ini diperoleh dari buku-buku mikrobiologi yang menjelaskan tentang cacing serta dari Internet.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Macam –macam cacing
1.1 Cacing tanah
Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32 Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain.
Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.
1.2 Cacing tambang
Cacing tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki.Larva akan berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru paru lalu dibatukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen.
Hospes parasitini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat padamucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira- kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvarabditif orm. Dalam waktu sekitar 3 hari l a rva tumbuh menjadilarva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40mi kron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larvaikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru.
1.3 Cacing pita
Cacing pita adalah parasit manusia dan hewan ternak. Ada tiga jenis cacing pita yang menjadikan manusia sebagai inang antara maupun inang permanen:
• Cacing pita sapi (Taenia sagita)
Taenia saginata adalah raksasa di antara semua cacing parasit. Panjang taenia saginata bisa mencapai 8 meter, hampir sepanjang saluran pencernaan manusia dewasa. Cacing pita ini berwarna putih pucat, tanpa mulut, tanpa anus dan tanpa saluran pencernaan. Badannya tidak berongga dan terdiri dari segmen-segmen berukuran 1X1,5 cm. Taenia saginata bisa hidup sampai 25 tahun di dalam usus inangnya.
• Cacing pita babi (Taenia solium)
Taenia solium adalah kerabat dekat Taenia saginata yang memiliki siklus hidup hampir sama, namun inang perantaranya adalah babi. Manusia terinfeksi dengan memakan daging babi berisi kista Taenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari Taenia saginata (3-4 m panjangnya), tetapi lebih berbahaya. Berbeda dengan Taenia saginata yang hanya membentuk kista di daging sapi, Taenia solium juga mengembangkan kista di tubuh manusia yang menelan telurnya. Kista tersebut dapat terbentuk di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah serius. Selanjutnya, jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat mereka akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu kesehatan.
• Cacing pita ikan
Infeksi Cacing Pita Ikan (Difilobatriasis) merupakan infeksi usus karena cacing pita dewasa Diphyllobothrium latum.
Infeksi ini banyak ditemukan di Eropa (terutama Skandinavia), Jepang, Afrika, Amerika Selatan, Kanada dan Amerika (terutama Alaska dan daerah Great Lake). Infeksi sering terjadi akibat memakan ikan air tawar mentah atau dimasak belum matang betul.
Cacing pita dewasa dinamakan Diphyllobothrium latum.
Cacing dewasa memiliki beribu-ribu proglotid (bagian yang mengandung telur) dan panjangnya sampai 450-900 cm. Telurnya dikeluarkan dari proglotid di dalam usus dan dibuang melalui tinja. Telur akan mengeram dalam air tawar dan menghasilkan embrio, yang akan termakan oleh krustasea (binatang berkulit keras seperti udang, kepiting). Selanjutnya krustasea dimakan oleh ikan. Manusia terinfeksi bila memakan ikan air tawar terinfeksi yang mentah atau yang dimasak belum sampai matang.
1.4 Cacing Pipih
Tubuhnya memipih badan berbentuk pita. Cacing ini simetris bilateral, mempunyai sisi kanan dan kiri, permukaan dorsal dan ventral, bagian anterior dan posterior. Tipe simetris semacam ini dikaitkan dengan gerakan yang aktif. Cacing pipih yang hidup di air tawar misalnya Plenaria, dapat bergerak cepat. Bila planaria berada pada permukaan substrat/tanah mengeluarkan lendir di bawah tubuhnya, dan bergerak maju di atas lendir ini menggerakkan silianya. Bila planaria berada di dalam air dapat berenang dengan cara menggerakkan tubuhnya seperti gelombang. Dengan demikian planaria dapat bergerak bebas sehingga dapat mencari makanan secara aktif.
1.5 Cacing Filaria
Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut filaria. Pernahkah Anda mendengar penyakit kaki gajah (elephantiasis). Terlihat kaki penderita menjadi bengkak, mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini, demikian seterusnya.
1.6 Cacing Kremi
Cacing yang memegang peranan disini adalah Enterobius vermikularis yang sering banget terjadi pada anak kecil. Cacing dewasa akan tinggal di usus besar. Cacing betina yang akan bertelur meninggalkan usus besar menuju anus yang merupakan tempat bertelur yang paling ideal. Saat inilah si anak akan menangis karena lubang anusnya gatal. Secara kasat mata, cacing ini akan terlihat sebesar parutan kelapa disekitar lubang anus. Transmisi cacing ini seperti halnya cacing perut masuk langsung melalui mulut baik dengan perantara makanan maupun dimasukan secara tidak sengaja oleh penderita yang habis menggaruk lubang anusnya yang gatal. Sehingga pada anak anak sering terjadi reinfeksi akibat tindakan itu.
1.7 Cacing Gelang
Biasanya disebabkan oleh keluarga cacing Askaris lumbricoides yang merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia. Cacing dewasa hidup di dalam usus manusia bagian atas, dan melepaskan telurnya di dalam kotoran manusia. Infeksi pada manusia terjadi melalui jalan makanan yang tercemar oleh kotoran yang mengandung telur cacing. Telur yang tertelan akan mengeluarkan larva. Larva ini akan menembus dinding usus masuk ke aliran darah yang akhirnya sampai ke paru paru lalu akan dibatukan keluar dan ditelan kembali ke usus. Penyulit yang timbul dari infeksi ini antara lain anemia, obstruksi saluran empedu, radang pankreas dan usus buntu.
1.8 Cacing Cambuk
Cacing dewasa akan tinggal di usus bagian bawah dan melepaskan telurnya ke luar tubuh manusia bersama kotoran. Telur yang tertelan selanjutnya akan menetas di dalam usus halus dan hidup sampai dewasa disana. Gejala yang timbul pada penderita cacing cambuk antara lain nyeri abdomen, diare dan usus buntu.
1.9. Cacing jantung
Cacing jantung atau nama ilmiahnya Dirofilaria immitis merupakan penyakit serius bagi anjing dan kucing dan sering kali membawa maut bila tak dirawat. Cacing yang disebar melalui vektor nyamuk Anopheles, tinggal di dalam arteri pulmonari menyebabkan kerusakan kepada jantung dan paru-paru.
Obat kelas avermectin digunakan secara meluas untuk mencegah penularan, tetapi American Heartworm Society memperkirakan sekitar 27 juta anjing di Amerika Serikat tidak dirawat.Kasus Dirofilaria immitis dijumpai di seluruh negara bagian di AS dan survey yang dilakukan oleh para dokter hewan pada 2002 melaporkan 244.000 kasus menunjukkan positif untuk uji cacing jantung (heartworm).
2. Siklus hidup cacing
2.1 Siklus hidup cacing tanah
Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.
Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanahSetelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidinsLumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing properti.
2.2 Siklus hidup cacing tambang
Cacing tambang dewasa berada dalam usus kecil manusia, di mana mereka melekatkan diri di dinding usus dengan mulut mereka. Mereka makan darah dan menyebabkan perdarahan di usus yang ditempati.
Cacing betina memproduksi telur cacing, yang dikeluarkan lewat tinja. Jika tinja jatuh ke tanah, dan cuaca hangat, telur cacing akan menetas menjadi larva dalam waktu sekitar dua hari. Larva kemudian menjadi dewasa dalam seminggu, dan dapat bertahan untuk waktu yang lama jika kondisi mendukung. Larva yang mendapatkan kontak dengan kaki telanjang manusia akan menembus kulit kaki dan masuk ke paru-paru melalui sirkulasi darah. Larva kemudian bergerak ke saluran udara menuju tenggorokan dan tertelan. Mereka menuju ke usus kecil. Larva lalu melekat pada dinding usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Pada sekitar usia lima bulan, cacing mulai memproduksi telur.
Infeksi cacing tambang biasanya tidak memberikan gejala spesifik. Anemia (kekurangan darah) dan keluhan terkait peradangan usus seperti mual, sakit perut dan diare adalah beberapa gejala yang mungkin timbul.
2.3 siklus hidup cacing kremi
Telur cacing kremi dapat menempel pada tangan Anda melalui kotoran manusia. Ketika tangan Anda yang tercemar masuk ke mulut Anda, telur dapat masuk ke dalam tubuh, menetas dalam usus kecil dan bergerak turun ke usus besar. Di sana cacing kremi melekat pada dinding usus dan makan. Ketika mereka siap bertelur, cacing pindah dan bertelur pada kulit berlipat di sekitar dubur. Saat itulah Anda mungkin curiga terkena cacingan karena merasakan gatal-gatal di sekitar anus (pruritus) yang biasanya lebih intens di malam hari. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan dari menelan telur cacing ke merasakan gatal-gatal di anus. Cacing kremi dewasa berukuran 3-10 mm sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang.
Telur cacing kremi dapat bertahan hidup hingga tiga minggu. Karena bentuknya yang sangat kecil, Anda tidak dapat melihatnya sehingga bisa tanpa sengaja tertulari ketika menggunakan baju, kasur, bantal, mainan anak, uang kertas, peralatan makan, atau peralatan mandi/toilet.
Untuk memastikan apakah gatal-gatal disebabkan oleh cacing kremi, Anda dapat meletakkan sepotong selotip di anus. Semua cacing atau telur akan menempel ke selotip. Lalu bawalah selotip itu ke dokter untuk diperiksa.
2.4 Siklus hidup cacing pita
Cacing pita Taenia dewasa hidup dalam usus manusia yang merupakan induk semang definitif. Segmen tubuh Taenia yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus manusia atau secara pasif bersama-sama feses manusia. Bila inang definitif (manusia) maupun inang antara (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio (onchosphere) yang kemudian menembus dinding usus. Embrio cacing yang mengikuti sirkulasi darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi sistiserkosis yang infektif di dalam otot tertentu. Otot yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, diafragma, lidah, otot pengunyah, daerah esofagus, leher dan otot antar tulang rusuk.
Infeksi Taenia dikenal dengan istilah Taeniasis dan Sistiserkosis. Taeniasis adalah penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya. Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesies Taenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi. sementara Taenia saginata dikenal juga sebagai cacing pita sapi.
Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva Taenia (sistiserkus) akibat termakan telur cacing Taenia solium (cacing pita babi). Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia. Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam
Siklus hidup Taenia saginata:
Cacing pita sapi memiliki siklus yang rumit dan berakhir pada manusia sebagai inang tetapnya. Cacing pita dewasa melepaskan telur-telurnya bersama segmen badannya. Segmen ini bila mengering di udara luar akan melepaskan telur-telur cacing yang dapat termakan oleh sapi saat merumput. Enzim pencernaan sapi membuat telur menetas dan melepaskan zigot yang kemudian menembus lapisan mukosa saluran pencernaan untuk memasuki sirkulasi darah. Dari pembuluh darah, zigot akan menetap di otot membentuk kista, seperti pada cacing cambuk. Bila daging sapi berisi kista tersebut dimakan manusia dalam keadaaan mentah atau setengah matang, enzim-enzim pencernaan akan memecah kista dan melepaskan larva cacing. Selanjutnya, larva cacing yang menempel di usus kecil akan berkembang hingga mencapai 5 meter dalam waktu tiga bulan.
Selain masalah gizi, kehadiran cacing pita umumnya menyebabkan gejala perut ringan sampai sedang (mual, sakit, dll).
2.5 Siklus hidup cacing cambuk
Manusia terinfeksi karena memakan daging mentah atau setengah matang dari hewan yang terinfeksi, terutama babi, babi hutan, dan beruang. Larva lalu masuk ke usus kecil, menembus mukosa, dan menjadi dewasa dalam 6-8 hari. Cacing betina dewasa melepaskan larva yang bisa bertahan hidup sampai 6 minggu. Larva yang baru lahir bermigrasi melalui aliran darah dan jaringan tubuh, tetapi akhirnya hanya bertahan di sel otot rangka lurik. Larva mengkista (encyst) sepenuhnya dalam 1-2 bulan dan tetap hidup hingga beberapa tahun sebagai parasit intraselular. Larva yang mati akhirnya diserap kembali tubuh. Siklus ini terus berlanjut hanya jika larva mengkista dicerna oleh karnivora lain.
Gejala awal infeksi cacing cambuk termasuk edema, nyeri otot, dan demam.
2.6 Siklus hidup cacing filaria
Cacing ini hidup pada pembuluh limfe di kaki. Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe sehingga kaki menjadi membengkak. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini, demikian seterusnya.
2.7 Siklus hidup cacing pipih
Tubuh planaria terdiri dari tiga lapisan embrional. Lapisan terluar disebut ekstoderm, lapisan dalam disebut endoderm. Endoderm membatasi rongga gastrovaskuler. Diantara ekstoderm dan endoderm terdapat lapisan mesoderm. Mesoderm terdiri dari jaringan ikat yang longgar. Pada mesoderm terdapat organ-organ misalnya organ kelamin jantan dan betina. Filum ini terdiri atas 6000 spesies yang digolongkan menjadi tiga kelas.
1. kelas Turbellaria
Semua cacing berambut getar yang termasuk tubellaria hidup secara bebas. Sebagian besar hewan yang termasuk mempunyai susunan tubuh yang sederhana. Cacing-cacing ini dapat kita temukan pada tanah-tanah lembab dan juga di perairan baik asin maupun tawar.
2. kelas Trematoda
Semua anggota kelas ini hidup secara parasit. Cacing menghisap makanan dari inang dengan mempergunakan batil penghisap yang terdapat di permukaan ventral. Kebanyakan larva dari cacing ynag termasuk termatroda hidup secara parasit. Inang yang ditumpangi larva berbeda dengan inang yang ditumpangi cacing dewasa. Inang dari larva biasanya siput-siputan. Cacing hati merupakan parasit yang berbahaya bagi domba dan lembu. Schistosoma dan cacing paru-paru merupakan parasit yang berbahaya bagi manusia yang hidup di daerah tropis.
3. kelas Cestoda
Cestoda atau cacing pita juga hidup secara parasit. Cacing pita dewasa hidup di dalam usus inang dan menghisap sari makanan. Bentuk Cestoda seperti pita terdiri dari untaian progtogled masing progtogled hidup sendiri. Untaian progtogled dapat mencapai panjang lebih dari 30 meter.
Dalam siklus hidupnya sebagian besar cacing pita membutuhkan dua atau lebih inang. Kalau daging yang mengandung cacing pita tidak dimasak sempurna kemudian termakan oleh orang, maka orang tersebut akan terserang cacing pita. Cacing pita tidak memiliki alat pencernaan dan indra. Dalam evolusi mungkin hewan ini hasil perkembangan dari cacing pita yang hidup secara bebas. Dalam proses perkembangannya, alat pencernaan dan alat indera tidak lagi sesuai dengan cara hidup parasit.
3. Gejala terkena cacing
Secara umum gejala yang terjadi apabila seseorang mengalami kecacingan adalah:
Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk jenis cacing Enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus, biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah peri-anal (sekeliling anus). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat diambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.
3.1 Cacing Tambang
Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Jumlah darah yang hiIang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing, terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan kapiler arteri; (2) species cacing : seekorA. duodenaleyang lebih besar daripada N. americanus mengisap 5x lebih banyak darah;
(3) lamanyainfeksi. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbanganzat besi dan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terhadapinfeksi parasit. Beratnya penyakit cacing tambang tergantung pada beberapafaktor, antaza lain umur,"wormload," lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita. Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan :
I. Infeksi ringan dengan kehilangan darahyang dapat diatasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun terhadap penyakit lain.
II.infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai keluhan pencernaan, anemia, lemah, fisik dan mentaI kurang baik.
III.infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaanfisik buruk dan payah jantung dengan segala akibatnya.
Gejala lainnya adalah Ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch) bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit. Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa terjadi akbiat berpindahnya larva melalui paru-paru. Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri di perut bagian atas. Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus.
Kehilangan darah yang berat dan berlangsung lama, bisa menyebabkan pertumbuhan yang lambat, gagal jantung dan pembengkakan jaringan yang meluas pada anak- anak. (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:11).
3.2 Cacing Kremi
Gejalanya berupa:
1. Rasa gatal hebat di sekitar anus
2. Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
3. Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya di sana)
4. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi yang berat)
5. Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam vagina)
6. Kulit di sekitar anus menjadi lecet, kasar, atau terjadi infeksi (akibat penggaruka
3.3 Cacing gelang
Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa.
Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak napas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.
Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.
3.4 Cacing pita
Cacing pita Taenia dapat menimbulkan penyakit yang disebut taeniasis dan sistiserkosis. Gejala klinis terbanyak yang dikeluhkan adalah:
• Pengeluaran segmen tubuh cacing dalam fesesnya (95%)
• Gatal-gatal pada anus (77%)
• Mual (46%)
• Pusing (42%)
• Peningkatan nafsu makan (30%)
• Sakit kepala (26%)
• Diare (18%)
• Lemah (17%)
• Merasa lapar (16%)
• Sembelit (11%)
• Penurunan berat badan (6%)
• Rasa tidak enak di lambung (5%)
• Letih (4%)
• Muntah (4%)
• Tidak ada selera makan saat lapar (1%)
• Pegal-pegal pada otot (1%)
• Nyeri di perut, mengantuk, serta kejang-kejang, gelisah, gatal-gatal di kulit dan gangguan pernafasan (masing-masing <1%).
Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit dalam tubuh. Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan sistiserkus di jaringan tubuh yang berbeda-beda. Sistiserkus pada manusia paling sering ditemukan di otak (disebut neurosistiserkosis), mata, otot dan lapisan bawah kulit.
Cacing pita babi gejalanya
Infeksi oleh cacing dewasa biasanya tidak menyebabkan gejala. Infeksi yang berat oleh kista bisa menyebabkan nyeri otot, lemah dan demam. Bila infeksi sampai ke otak dan selaputnya, bisa menimbulkan peradangan, dan bisa terjadi kejang.
Cacing pita ikan gejalanya
Infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun beberapa penderita mengalami gangguan usus yang ringan.Kadang cacing pita menyebabkan anemia.
4. Diagnosa Cacing
4.1 Cacing Pita
Pada infeksi cacing dewasa, telur bisa ditemukan disekeliling dubur atau di dalam tinja. Proglotid atau kepala cacing harus ditemukan di dalam tinja dan diperiksa dengan mikroskop untuk membedakannya dari cacing pita lainnya. Kista hidup di dalam jaringan (misalnya di otak) dan bisa dilihat dengan CT atau MRI. Kadang-kadang kista bisa ditemukan pada pemeriksaan laboratorium dari jaringan yang diambil dari bintil di kulit. Juga bisa dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap parasit.
4.2 Cacing Kremi
Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif bergerak.
Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.
5. Pengobatan cacing
5.1 Cacing kremi
Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus meminum obat tersebut karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang lainnya.
Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke daerah sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari.
Meskipun telah diobati, sering terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke dalam tinja selama seminggu setelah pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa.
5.2 Cacing Gelang
Pengobatan askariasis dapat digunakan obat-obat sepreti pirantel pamoat, aspirin, paracetamol, decolgen.
Pada umumnya, askariasis memiliki prognosis yang baik. Kesembuhan askariasis mencapai 700 hingga 999%.
5.3 Cacing Pita
Pengendalian cacing pita Taenia dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui diagnosa dini dan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi. Beberapa obat cacing yang dapat digunakan yaitu Atabrin, Librax dan Niclosamide dan Praziquantel. Sedangkan untuk mengobati sistiserkosis dapat digunakan Albendazole dan Dexamethasone. Untuk mengurangi kemungkinan infeksi oleh Taenia ke manusia maupun hewan diperlukan peningkatan daya tahan tubuh inang. Hal ini dapat dilakukan melalui vaksinasi pada ternak, terutama babi di daerah endemis taeniasis/sistiserkosis serta peningkatan kualitas dan kecukupan gizi pada manusia.
6. Cara pencegahan terkena cacing
Cacingan bisa dicegah dengan mencuci badan, terutama tangan dan kaki dengan air dan sabun dengan bersih.
Saat salah satu anggota keluarga terkena cacingan, maka semua orang di rumah harus dirawat. Seprai, handuk dan pakaian yang dipakai pada dua hari sebelumnya harus dicuci dengan dengan air hangat dan detergen.
* Hati-hati bila maka makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi masih kurang
* Masak bahan makanan sampai matang
* Selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi/WC atau sebelum memegang makanan
* Infeksi cacing tambang bisa dihindari dengan selalu mengenakan alas kaki.
* Gunakan desinfektan setiap hari di tempat mandi dan tempat buang air besar.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Makalah ini menjelaskan tentang macam-macam cacing yaitu cacing tanah, cacing tambang, cacing kremi, cacing pita, cacing pipih dll. Dan dalam makalah ini juga dijelaskan siklus hidup cacing, serta pencegahan yang di lakukan untuk terhindar dari penyakit cacing.
Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Daur hidup cacing adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvar abditif orm. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Gejalanya adalah Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus.penularanmelalui larva cacing yang terdapat di tanah yangmenembus kulit, Pengobatan dengan anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat.
Upaya pencegahan dan penanggulangan harus terus dilakukan agar terhindar dari permasalahan kecacingan , hal ini penting agar permasalahan kecacingan dan dampaknya terhadap tumbuh kembang misalnya anak-anak seperti kurang gizi dapat dicegah.
2. Saran
1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuciber sih dengan air.
2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
5. Bila sudah terjadi infeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut
LAMPIRAN
Cacing Tanah Cacing Tambang
Cacing Gelang Cacing Pita
Cacing Kremi Cacing Cambuk
Cacing Filaria Cacing Askariasis
DAFTAR PUSTAKA
http://turunberatbadan.com/1186/penyebab-cacingan/
http://www.arali2008.wordfres.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tambang
http://www.scribd.com/search?cat=cacing+tambang&sq=Search#913
http://makalah-kesehatan-online.blogspot.com/2008/12/cacing-cacing-yang-berkeliaran-di-tubuh.html
Drs.tan Hoan Tjay dan Drs kirana Rahardja, 2007,obat-obat penting, Jakarta, PT Elex Media Komputindo.
Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Padmasutra, Leshmana, dr. 2007. Catatan Kuliah:Ascaris lumbricoides. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/jenis-jenis_cacing
http://id.wikipedia.org/wiki/cacing-pipih dan cacing_tambang
28 October 2010 Kategori: Kesehatan Anak, Pencernaan, 5 Jenis Cacing Penyebab Cacingan
^ NSWHealth.Penyakit menular anak-anak.http://www.health.nsw.gov.au/mhcs/publication_pdfs/5980/DOH-5980-IND.pdf : Januari 2002
Sanitasi Air
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu fondasi inti dari masyarakat yang sehat, sejahtera dan damai. Hampir 50 persen rumah tangga di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia kekurangan layanan-layanan dasar seperti ini. Sistem air bersih dan sanitasi yang baik akan menghasilkan manfaat ekonomi, melindungi lingkungan hidup, dan vital bagi kesehatan manusia.
Masyarakat tidak selalu menyadari pentingnya kebersihan. Praktik-praktik kebersihan yang ada seringkali tidak kondusif bagi kesehatan yang baik, dan kakus tidak dipelihara atau digunakan dengan baik. Tingginya angka kejadian diare, penyakit kulit, penyakit usus dan penyakit-penyakit lain yang berasal dari air di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah tetap menjadi halangan yang seringkali terjadi dalam upaya meningkatkan kesehatan anak secara umum. Selain akses yang buruk terhadap air bersih, kegagalan untuk mendorong perubahan perilaku—khususnya di kalangan keluarga berpenghasilan rendah dan penduduk di daerah kumuh—telah memperburuk situasi air bersih dan sanitasi di Indonesia.
Sanitasi yang buruk juga menjadi penyumbang signifikan dari polusi air—yang menambah biaya air yang aman bagi rumah tangga, dan menurunkan produksi perikanan di sungai dan danau Tahun 2006, Indonesia kehilangan 2,3 persen produk domestik bruto yang disebabkan oleh sanitasi dan kebersihan yang buruk.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Apa itu sanitasi?
2. Apa hubungan sanitasi dengan air?
3. Bagaimana upaya-upaya sanitasi air bersih?
4. Darimana sumber-sumber air bersih?
5. Bagaimana pengolahan air yang baik?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah yang kami buat ini adalah :
1. Agar kita mengetahui apa itu sanitasi,
2. Agar kita mengetahui dampak pencemaran air,
3. Agar kita mengetahui hubungan sanitasi dengan air bersih.
4. Agar kita mengetahui sumber-sumber air bersih
1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Kita mampu menjaga kebersihan air
2. Kita tidak mencemari air
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
2.1.1 Sanitasi
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Definisi sanitasi menurut beberapa ahli, yaitu:
1) Menurut Dr.Azrul Azwar. MPH, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
2) Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap factor-faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
3) Menurut Ehler dan Steel (1958) sanitasi adalah usaha pencegahan Penyakit, dengan pemindahan penyakit.
4) Sedangkan batasan WHO, yang dimaksud dengan sanitasi lingkungan adalah usaha pengawasan terhadap lingkungan fisik manusia yang dapat atau mungkin dapat memberikan akibat yang merugikan kesehatan jasmani, dan kelangsungan hidupya.
Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan:
1. Kesehatan
Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak efektif.
2. Penggunaan air
Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.
3. Penggunaan ulang air.
Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak dengan memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan masyarakat.
2.1.2 Air Bersih
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad lain. Khususnya manusia, manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55 – 60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak – anak sekitar 65 % , dan untuk bayi sebesar 80 %.
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci ( bermacam – macam cucian ) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO dinegara – negara maju tiap orang memerlukan air antara 60 – 120 liter per hari. Sedangkan dinegara – negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30 – 60 liter per hari.
Air yang kita perlukan adalah air yang memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Air yang tidak tercemar, didefinisikan sebagai air yang tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan secara normal. Air yang memenuhi syarat, diharapkan dampak negatif penularan penyakit melalui air bisa diturunkan.
2.2 Persyaratan Air Bersih
Air selain merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, juga dapat menjadi sarana penyebaran penyakit ataupun keracunan. Air bersih yang sehat harus memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. : 416/MENKES/PER/IX/1990.
Adapun persyaratan air bersih sbb.:
1. Syarat Fisik
- Jernih
- Tidak berwarna
- Tidak berasa
- Tidak berbau
- Temperatur tidak melebihi suhu udara.
2. Syarat Kimia
- Tidak mengandung unsur kimia yang bersifat racun.
- Tidak mengandung zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
3. Syarat Bakteriologis :
Tidak mengandung kuman parasit, kuman patogen, bakteri E. coli.
Ketentuan : Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
4. Syarat Radio aktif :
Tidak mengandung sinar alfa, sinar gamma
2.3 Sumber – sumber air
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber – sumber air ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. dan 3. Air sungai dan Danau ( Air Permukaan)
Menurut asalnya sebagia dari air sungan dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran – saluran kedalam sungai atau danau ini. Oleh karena air sungan dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
4. Mata Air
Air yang keluar dari mata air biasanya keluar dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini, bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar, maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air sumur dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah, maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda – beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu, perlu direbus dahulu sebelum diminum.
6. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dal;amnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung ( tanpa melalui pengolahan ).
2.4 Pencemaran Air
Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik, seperti ikan. Fenomena alam seperti gunung berapi, algae blooms, badai, dan gempa bumi juga menyebabkan perubahan besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
Pencemaran air dapat di sebabkan oleh beberapa hal yaitu :
1. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
2. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
3. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
4. Seperti limbah pabrik yg mengalir ke sungai seperti di sungai citarum
5. Pencemaran air oleh sampah.
Akibat yang dapat di timbulkan dari pencemaran air adalah:
a. dapat menyebabkan banjir
b. erosi
c. kekurangan sumber air
d. dapat membuat sumber penyakit
e. tanah Longsor
f. dapat merusak ekosistem sungai
g. kerugian untuk nelayan.
Dengan adanya pemberdayaan hidup bersih dapat memberikan air yan bersih dan hidup yang sehat bagi masyarakat, salah satu cara agar pemberdayaan hidup bersih dapat di lakukan dengan cara pengadaan WC umum bagi masyarakat, mengelola.
2.5 Penyakit - penyakit
1. Penyakit melalui air
Ditularkan melalui air dan menularkan kedalam manusia, seperti : Kholera, dysentri, typhoid dan hepatitis.
2. Penyakit parasit :
Ditularkan oleh organisme patogen yang menjalani siklus hidupnya dalam air, seperti penyakit cacing/scehhistorosomiasis.
3. Penyakit karena serangga :
Artinya ditularkan melalui serangga yang menggunakan air untuk bertelur dan berkembang biak, seperti : Penyakit Demam berdarah.
2.6 Penyebab Buruknya Kualitas Air dan Sanitasi di Indonesia
Ada dua masalah pokok yang menyebabkan buruknya kualitas air di Indonesia :
1. Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Masih banyak penduduk Indonesia yang buang air besar sembarangan tentu menyebabkan buruknya kualitas air di Indonesia terutama pada sumber-sumber air yang seharusnya menjadi sumber penghidupan warga. Dengan tingkat populasi yang tinggi, namun kesadaran akan lingkungan yang rendah semakin memperparah kondisi tersebut. Masyarakat Indonesia masih sering membuang limbah rumah tangga, sampah, dst. Padahal sungai-sungai itulah yang menjadi sumber penghidupan mereka. Belum juga eksploitasi air tanah untuk kepentingan fasilitas hotel, apartemen, dan perkantoran yang menyebabkan semakin berkurangnya debit air bersih.
2. Rendahnya alokasi APBD tiap daerah yang digunakan untuk memperbaiki layanan air bersih dan sanitasi.
Berdasarkan data dari Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kementrian Dalam Negeri, pada tahun 2010 yang lalu, rata-rata alokasi belanja sanitasi seluruh kota dan kabupaten di Indonesia masih di angka 1,5% dari total belanja APBD. Dibandingkan pada saat tahun 2006 yang alokasi rata-ratanya hanya 0.5%, hal itu tentu mengalami kenaikan yang signifikan. Namun, berkaca dari kondisi Indonesia saat ini, hal itu tentu jauh dari kata layak, karena kondisi sanitasi dan air bersih di Indonesia telah mencapai taraf yang sangat memprihatinkan.
Ada 3 langkah strategis yang harus diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah air bersih dan sanitasi :
1. Pemerintah terus menggalakkan upaya penumbuhan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya melalui program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
PHBS mengupayakan untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sasaran penyuluhan program ini adalah kelas IV dan V SD/sederajat. Namun, perlu digarisbawahi, bahwa hendaknya penyuluhan tentang PHBS sebaiknya lebih dimulai dari dini. Bahkan sejak taman kanak-kanak, pemerintah harus memberikan penyuluhan juga. Mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci tangan sebelum makan, gosok gigi dua kali sehari, dan lainnya. Sehingga, penanaman perilaku hidup sehat dapat teraplikasikan sejak anak didik berada di pendidikan dasar.
PHBS seharusnya juga tidak hanya diberikan kepada anak-anak. Orang tua pun juga perlu diberi pengetahuan tentang ini. Sebab, orang tua-lah yang membentuk pribadi dan perilaku anak tersebut. Secara tidak langsung, orang tua juga menjadi pengawas bagi anak saat di rumah, apakah anak tersebut mampu melaksanakan perilaku hidup sehat ataukah tidak.
2. Menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas untuk mengakses air bersih serta sanitasi yang layak.
3. Pemerintah dapat menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya lembaga PBB, seperti WHO atau World Health Organization.
2.7 Upaya – upaya Sanitasi Air
1. Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2. Tidak membuang sampah ke sungai.
3. Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
4. Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem.
5. Melakukan penanaman pohon.
6. Tidak melakukan kegiatan rumah tangga seperti MCK di sungai atau di dekat sumber air lainnya.
7. Membuat sumur resapan
Sumur resapan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur serapan berfungsi untuk membantu penyerapan air hujan ke dalam tanah dan kembali ke siklus air yang semestinya sehingga tidak menggenang di permukaan.
Gambar 1.2 Sumur Resapan
Pengolahan Air Minum Secara Sederhana
1. Secara Alamiah
Penyimpanan ( Storage ) dari air yang diperoleh dari berbagai sumber seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya.
Caranya : Air disimpan dan dibiarkan beberapa jam ditempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat di dalam air, dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan jernih.
2. Dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk, dan pasir.
Gambar 1.3 Penyaring Air
3. Pengolahan Air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam, yakni zat kima yang berfungsi untuk koagulasi, dan akhirnya mempercepat pengendapan, ( misalnya tawas). Zat kimia yang keduaadalah berfungsi untuk menyucihamakan atau membunuh bibit penyakit yang ada di dalam air ( misalnya chlor).
4. Pengolahan Air Dengan mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas – gas yang tidak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air Dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman – kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil, misalnya untuk kebutuhan rumah tangga
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad lain. Khususnya manusia, manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Air yang kita perlukan adalah air yang memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Untuk mendapatkan air yang memenuhi persyaratan tersebut diperlukan adanya sanitasi.
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Namun pada kenyataannya masih banyak penduduk Indonesia yang belum sepenuhnya melakukan upaya sanitasi ini.
Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.
3.2. Saran
1. Agar air bersih dapat diperoleh secara merata oleh seluruh masyarakat, maka pengadaan sarana sanitasi sangat di perlukan, seperti pengadaan WC umum, pembiasaan hidup bersih (cuci tangan sebelum makan, dan mandi setip 2x sehari.
2. Agar pencemaran air tidak terjadi lagi, masyarakat harus mampu mengolah limbah dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya karena salah satu bentuk pencemaran air adalah membuang sampah di sungai.
3. Pemerintah dalam hal ini harus lebih intensif dalam memberikan penyuluhan mengenai air bersih serta sanitasinya.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu fondasi inti dari masyarakat yang sehat, sejahtera dan damai. Hampir 50 persen rumah tangga di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia kekurangan layanan-layanan dasar seperti ini. Sistem air bersih dan sanitasi yang baik akan menghasilkan manfaat ekonomi, melindungi lingkungan hidup, dan vital bagi kesehatan manusia.
Masyarakat tidak selalu menyadari pentingnya kebersihan. Praktik-praktik kebersihan yang ada seringkali tidak kondusif bagi kesehatan yang baik, dan kakus tidak dipelihara atau digunakan dengan baik. Tingginya angka kejadian diare, penyakit kulit, penyakit usus dan penyakit-penyakit lain yang berasal dari air di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah tetap menjadi halangan yang seringkali terjadi dalam upaya meningkatkan kesehatan anak secara umum. Selain akses yang buruk terhadap air bersih, kegagalan untuk mendorong perubahan perilaku—khususnya di kalangan keluarga berpenghasilan rendah dan penduduk di daerah kumuh—telah memperburuk situasi air bersih dan sanitasi di Indonesia.
Sanitasi yang buruk juga menjadi penyumbang signifikan dari polusi air—yang menambah biaya air yang aman bagi rumah tangga, dan menurunkan produksi perikanan di sungai dan danau Tahun 2006, Indonesia kehilangan 2,3 persen produk domestik bruto yang disebabkan oleh sanitasi dan kebersihan yang buruk.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Apa itu sanitasi?
2. Apa hubungan sanitasi dengan air?
3. Bagaimana upaya-upaya sanitasi air bersih?
4. Darimana sumber-sumber air bersih?
5. Bagaimana pengolahan air yang baik?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah yang kami buat ini adalah :
1. Agar kita mengetahui apa itu sanitasi,
2. Agar kita mengetahui dampak pencemaran air,
3. Agar kita mengetahui hubungan sanitasi dengan air bersih.
4. Agar kita mengetahui sumber-sumber air bersih
1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Kita mampu menjaga kebersihan air
2. Kita tidak mencemari air
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
2.1.1 Sanitasi
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Definisi sanitasi menurut beberapa ahli, yaitu:
1) Menurut Dr.Azrul Azwar. MPH, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
2) Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap factor-faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
3) Menurut Ehler dan Steel (1958) sanitasi adalah usaha pencegahan Penyakit, dengan pemindahan penyakit.
4) Sedangkan batasan WHO, yang dimaksud dengan sanitasi lingkungan adalah usaha pengawasan terhadap lingkungan fisik manusia yang dapat atau mungkin dapat memberikan akibat yang merugikan kesehatan jasmani, dan kelangsungan hidupya.
Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan:
1. Kesehatan
Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak efektif.
2. Penggunaan air
Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.
3. Penggunaan ulang air.
Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak dengan memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan masyarakat.
2.1.2 Air Bersih
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad lain. Khususnya manusia, manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55 – 60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak – anak sekitar 65 % , dan untuk bayi sebesar 80 %.
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci ( bermacam – macam cucian ) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO dinegara – negara maju tiap orang memerlukan air antara 60 – 120 liter per hari. Sedangkan dinegara – negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30 – 60 liter per hari.
Air yang kita perlukan adalah air yang memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Air yang tidak tercemar, didefinisikan sebagai air yang tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan secara normal. Air yang memenuhi syarat, diharapkan dampak negatif penularan penyakit melalui air bisa diturunkan.
2.2 Persyaratan Air Bersih
Air selain merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, juga dapat menjadi sarana penyebaran penyakit ataupun keracunan. Air bersih yang sehat harus memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. : 416/MENKES/PER/IX/1990.
Adapun persyaratan air bersih sbb.:
1. Syarat Fisik
- Jernih
- Tidak berwarna
- Tidak berasa
- Tidak berbau
- Temperatur tidak melebihi suhu udara.
2. Syarat Kimia
- Tidak mengandung unsur kimia yang bersifat racun.
- Tidak mengandung zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
3. Syarat Bakteriologis :
Tidak mengandung kuman parasit, kuman patogen, bakteri E. coli.
Ketentuan : Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
4. Syarat Radio aktif :
Tidak mengandung sinar alfa, sinar gamma
2.3 Sumber – sumber air
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber – sumber air ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. dan 3. Air sungai dan Danau ( Air Permukaan)
Menurut asalnya sebagia dari air sungan dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran – saluran kedalam sungai atau danau ini. Oleh karena air sungan dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
4. Mata Air
Air yang keluar dari mata air biasanya keluar dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini, bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar, maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air sumur dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah, maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda – beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu, perlu direbus dahulu sebelum diminum.
6. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dal;amnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung ( tanpa melalui pengolahan ).
2.4 Pencemaran Air
Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik, seperti ikan. Fenomena alam seperti gunung berapi, algae blooms, badai, dan gempa bumi juga menyebabkan perubahan besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
Pencemaran air dapat di sebabkan oleh beberapa hal yaitu :
1. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
2. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
3. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
4. Seperti limbah pabrik yg mengalir ke sungai seperti di sungai citarum
5. Pencemaran air oleh sampah.
Akibat yang dapat di timbulkan dari pencemaran air adalah:
a. dapat menyebabkan banjir
b. erosi
c. kekurangan sumber air
d. dapat membuat sumber penyakit
e. tanah Longsor
f. dapat merusak ekosistem sungai
g. kerugian untuk nelayan.
Dengan adanya pemberdayaan hidup bersih dapat memberikan air yan bersih dan hidup yang sehat bagi masyarakat, salah satu cara agar pemberdayaan hidup bersih dapat di lakukan dengan cara pengadaan WC umum bagi masyarakat, mengelola.
2.5 Penyakit - penyakit
1. Penyakit melalui air
Ditularkan melalui air dan menularkan kedalam manusia, seperti : Kholera, dysentri, typhoid dan hepatitis.
2. Penyakit parasit :
Ditularkan oleh organisme patogen yang menjalani siklus hidupnya dalam air, seperti penyakit cacing/scehhistorosomiasis.
3. Penyakit karena serangga :
Artinya ditularkan melalui serangga yang menggunakan air untuk bertelur dan berkembang biak, seperti : Penyakit Demam berdarah.
2.6 Penyebab Buruknya Kualitas Air dan Sanitasi di Indonesia
Ada dua masalah pokok yang menyebabkan buruknya kualitas air di Indonesia :
1. Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Masih banyak penduduk Indonesia yang buang air besar sembarangan tentu menyebabkan buruknya kualitas air di Indonesia terutama pada sumber-sumber air yang seharusnya menjadi sumber penghidupan warga. Dengan tingkat populasi yang tinggi, namun kesadaran akan lingkungan yang rendah semakin memperparah kondisi tersebut. Masyarakat Indonesia masih sering membuang limbah rumah tangga, sampah, dst. Padahal sungai-sungai itulah yang menjadi sumber penghidupan mereka. Belum juga eksploitasi air tanah untuk kepentingan fasilitas hotel, apartemen, dan perkantoran yang menyebabkan semakin berkurangnya debit air bersih.
2. Rendahnya alokasi APBD tiap daerah yang digunakan untuk memperbaiki layanan air bersih dan sanitasi.
Berdasarkan data dari Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kementrian Dalam Negeri, pada tahun 2010 yang lalu, rata-rata alokasi belanja sanitasi seluruh kota dan kabupaten di Indonesia masih di angka 1,5% dari total belanja APBD. Dibandingkan pada saat tahun 2006 yang alokasi rata-ratanya hanya 0.5%, hal itu tentu mengalami kenaikan yang signifikan. Namun, berkaca dari kondisi Indonesia saat ini, hal itu tentu jauh dari kata layak, karena kondisi sanitasi dan air bersih di Indonesia telah mencapai taraf yang sangat memprihatinkan.
Ada 3 langkah strategis yang harus diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah air bersih dan sanitasi :
1. Pemerintah terus menggalakkan upaya penumbuhan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya melalui program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
PHBS mengupayakan untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sasaran penyuluhan program ini adalah kelas IV dan V SD/sederajat. Namun, perlu digarisbawahi, bahwa hendaknya penyuluhan tentang PHBS sebaiknya lebih dimulai dari dini. Bahkan sejak taman kanak-kanak, pemerintah harus memberikan penyuluhan juga. Mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci tangan sebelum makan, gosok gigi dua kali sehari, dan lainnya. Sehingga, penanaman perilaku hidup sehat dapat teraplikasikan sejak anak didik berada di pendidikan dasar.
PHBS seharusnya juga tidak hanya diberikan kepada anak-anak. Orang tua pun juga perlu diberi pengetahuan tentang ini. Sebab, orang tua-lah yang membentuk pribadi dan perilaku anak tersebut. Secara tidak langsung, orang tua juga menjadi pengawas bagi anak saat di rumah, apakah anak tersebut mampu melaksanakan perilaku hidup sehat ataukah tidak.
2. Menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas untuk mengakses air bersih serta sanitasi yang layak.
3. Pemerintah dapat menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya lembaga PBB, seperti WHO atau World Health Organization.
2.7 Upaya – upaya Sanitasi Air
1. Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2. Tidak membuang sampah ke sungai.
3. Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
4. Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem.
5. Melakukan penanaman pohon.
6. Tidak melakukan kegiatan rumah tangga seperti MCK di sungai atau di dekat sumber air lainnya.
7. Membuat sumur resapan
Sumur resapan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur serapan berfungsi untuk membantu penyerapan air hujan ke dalam tanah dan kembali ke siklus air yang semestinya sehingga tidak menggenang di permukaan.
Gambar 1.2 Sumur Resapan
Pengolahan Air Minum Secara Sederhana
1. Secara Alamiah
Penyimpanan ( Storage ) dari air yang diperoleh dari berbagai sumber seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya.
Caranya : Air disimpan dan dibiarkan beberapa jam ditempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat di dalam air, dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan jernih.
2. Dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk, dan pasir.
Gambar 1.3 Penyaring Air
3. Pengolahan Air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam, yakni zat kima yang berfungsi untuk koagulasi, dan akhirnya mempercepat pengendapan, ( misalnya tawas). Zat kimia yang keduaadalah berfungsi untuk menyucihamakan atau membunuh bibit penyakit yang ada di dalam air ( misalnya chlor).
4. Pengolahan Air Dengan mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas – gas yang tidak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air Dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman – kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil, misalnya untuk kebutuhan rumah tangga
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad lain. Khususnya manusia, manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Air yang kita perlukan adalah air yang memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Untuk mendapatkan air yang memenuhi persyaratan tersebut diperlukan adanya sanitasi.
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Namun pada kenyataannya masih banyak penduduk Indonesia yang belum sepenuhnya melakukan upaya sanitasi ini.
Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.
3.2. Saran
1. Agar air bersih dapat diperoleh secara merata oleh seluruh masyarakat, maka pengadaan sarana sanitasi sangat di perlukan, seperti pengadaan WC umum, pembiasaan hidup bersih (cuci tangan sebelum makan, dan mandi setip 2x sehari.
2. Agar pencemaran air tidak terjadi lagi, masyarakat harus mampu mengolah limbah dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya karena salah satu bentuk pencemaran air adalah membuang sampah di sungai.
3. Pemerintah dalam hal ini harus lebih intensif dalam memberikan penyuluhan mengenai air bersih serta sanitasinya.
Rute Pemberian Obat
I. TUJUAN PERCOBAAN
Mengenal dan menguasai tekhnik pemberian obat dalam berbagai rute pemberian obat.
Melihat pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang ditimbulkannya
Menyatakan onset of action obat berdasarkan rute yang diberikan.
II. PRINSIP PERCOBAAN
Rute pemberian obat yang berbeda akan mempengaruhi Onset of Action, Intensitas dan Duration of Action.
III. TEORI
Defenisi
Obat adalah zat kimia baik dari nabati, hewani maupun mineral dengan dosis layak yang dapat menyembuhkan, meringankan dan menghilangkan penyakit atau gejala-gejalanya serta dapat pula mendiagnosa suatu penyakit.
Cara pemberian obat yang berbeda-beda melibatkan proses absorbsi obat yang berbeda-beda pula. Proses absorbsi merupakan dasar yang penting dalam menentukan aktivitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses absorbsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan.
Pemberian sediaan obat dapat dilakunkan melalui dua rute utama yaitu:
Parenteral : intravena, intraarteri, intramuscular, intraperitonial
Nonparenteral : peroral
Gol Obat
Luminal Natrium (Phenobarbitalium Natricum) = C12H11N2NaO3
BM Luminal Natricum = 254,22
Pemerian hablur berlapis atau hablur berbentuk granul, putih atau serbuk putih; higroskopik; tidak berbau; rasa pahit. Larutan bersifat basa terhadap fenolftalein dan terurai bila dibiarkan
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam eter dan dalam kloroform.
Diazepam = C16H13ClN2O
BM Diazepam = 284,75
Pemerian Serbuk hablur, hampir putih sampai kuning, praktis tidak berbau
Kelarutan praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam kloroform, larut dalam etanol
Mekanisme kerja
Mekanisme Kerja Phenobarbital yaitu membatasi penjalaran aktivitas dan bangkitan dan menaikkan ambang rangsang. Fenobarbital merupakan obat pilihan utama untuk terapi kejang dan kejang demam pada anak.
Interaksi fenobarbital dengan obat lain umumnya terjadi karena fenobarbital meningkatkan aktivitas enzim mikrosom hati.
Diazepam bekerja di semua sinaps GABA, tapi kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagian dimediasi di medula spinalis. Karena itu diazepam dapat digunakan pada spasme otot yang asalnya dari mana saja, termasuk trauma otot lokal.
Indikasi
Sebagai Antidote dan Antikejang bagi penderita keracunan ester, asam pospat, keracunan hasyis dan keracunan CO2
Kontraindikasi
Bagi wanita hamil karena dapat meracuni janin
Efek samping
Luminal = Menyebabkan sedasi, psikosis akut, dan agitasi
Diazepam = Obstruksi saluran nafas oleh lidah, akibat relaksasi otot. Defresi nafas sampai henti napas, hipotensi, henti jantung dan kantuk.
Dosis
Luminal = Dosis Dewasa = 120-250 mg
Dosis Anak = 30-100 mg
Diazepam = 5 – 10 mg
Cara pemberian
Secara Oral, Injeksi IV dan secara rectal
IV. METODE PERCOBAAN
Alat – Alat
Oral needle 1 buah
Jarum Suntik 1 ml 2 buah
Beaker glass 50 ml 1 buah
Erlenmeyer 50 ml 1 buah
Timbangan hewan
Bahan
Larutan luminal Na 0,4% ( dosis 20 dan 40 mg/Kg BB)
Larutan Diazapam 10 mg/2 ml ( dosis 3 dan 4 mg / kg BB)
Aquades 1 %
Cara Kerja
Mencit di timbang masing – masing beratnya, catat dan diberi tanda kemudian dihitung dosis pemberiannya.
Mencit I dan Mencit II diberikan larutan Luminal Na dengan dosis 20 mg/Kg BB, masing-masingnya secara oral dan intra paritonial.
Mencit III dan Mencit IV diberikan larutan luminal Na dengan dosis 40 mg/Kg BB, masing – masingnya secara oral dan intra peritonial.
Mencit V dan Mencit VI diberikan aquadest 1 % BB secara oral dan intraperitonial.
Setelah pemberian obat tersebut, amati tingkah laku mencit dan dicatat perubahannya setiap 5 menit sekali antara lain:
Aktifitas Normal
Garuk-garuk
Diam
Tidur
Perhitungan Dosis
* Berat Mencit I = 23,84 gram
Dosis Luminal Na 20 mg/Kg BB
Konsentrasi larutan Luminal Na 0,4% 0,4 gram x 100 ml 4 mg/ml
Volume Luminal Na yang diambil (20mg/1000gr x 23,84gr)/(4mg/ml) = 0,4768mg/(4mg/ml) = 0,1192 ml 0,12 ml
* Berat Mencit II = 23,65 gram
Dosis Luminal Na 20 mg/Kg BB
Konsentrasi larutan Luminal Na 0,4% 0,4 gram x 100 ml 4 mg/ml
Volume Luminal Na yang diambil (20mg/1000gr x 23,65gr)/(4mg/ml) = 0,473mg/(4mg/ml) = 0,11825 ml 0,12 ml
* Berat Mencit III = 23,90 gram
Dosis Luminal Na 40 mg/Kg BB
Konsentrasi larutan Luminal Na 0,4% 0,4 gram x 100 ml 4 mg/ml
Volume Luminal Na yang diambil (40mg/1000gr x 23,90gr)/(4mg/ml) = 0,956mg/(4mg/ml) = 0,239 ml 0,24 ml
* Berat Mencit IV = 34,41 gram
Dosis Luminal Na 40 mg/Kg BB
Konsentrasi larutan Luminal Na 0,4% 0,4 gram x 100 ml 4 mg/ml
Volume Luminal Na yang diambil (40mg/1000gr x 34,41gr)/(4mg/ml) = 1,3764mg/(4mg/ml) = 0,3441 ml 0,34 ml
* Berat Mencit V = 26,50 gram
Aquadest 1 % /BB
Volume Aquadest yang diambil 1/100 x 26,50gr=0,265ml 0,3 ml
* Berat Mencit VI = 21,11 gram
Aquadest 1 % /BB
Volume Aquadest yang diambil 1/100 x 21,11gr=0,2111ml 0,2 ml
Langganan:
Postingan (Atom)